Kami Siap Desain dan Cetak Kalender Hijriyah

Alhamdulillah kami siap membantu dalam Promosikan usaha anda melalui Kalender Hijriyah, Promosi sekaligus dakwah Kalender Islam

Ust. Abu Bakar Baasyir adalah Guru Bangsa

Ust. Abu Bakar Baasyir sangat pantas di beri gelar Guru Bangsa, label teroris untuknya adalah jauh panggang dari api

Meluruskan Pengelolaan Infak/Kas Masjid Hari Ini

Banyak diantara pengurus/takmir Masjid yang tidak tahu tentang pengelolaan dana Kas masjid yang sumbernya dari infak Jamaah masjid

Senin, 09 Januari 2012

Beda Aqidah dengan umat Islam, Syi'ah bukan Islam

Jakarta - Sesungguhnya, akidah kita umat Islam tidak sama dengan akidah Syi’ah. Jelas, Syi’ah itu merupakan induk kesesatan. Jadi anggapan akidah Sunni sama dengan akidah Syiah adalah sebuah kerancuan yang luar biasa. Ini penipuan yang nyata.
“Meski kelak suatu saat, ada kerja sama antara umat Islam dengan kalangan Syi’ah di dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan, bukan berarti akidahnya sama,” ujar Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dalam situsnya Nahi Munkar.
Seorang tokoh NU sendiri, seperti KH Irfan Zidny MA (almarhum), pernah merasa gusar terhadap sikap sejumlah intelektual dan ulama yang memposisikan Syi’ah sama saja dengan Sunni, padahal mereka itu tidak tahu banyak soal Syi’ah.
Perbedaan akidah itu jelas, jika menyimak doktrin tentang Tahrif al Qur’an yang dimunculkan syiah untuk mendukung konsep Imamah, maka akan didapati hampir seluruh ayat-ayat Al Qur’an ditakwilkan untuk mendukung kekhilafahan Ali bin Abu Thalib ra, seperti dalam QS Al Maidah : 55 dan 67. Bahkan untuk tujuan tersebut, mereka tidak segan-segannya untuk menambah ayat –ayat di dalam Al Qur’an. Sehingga muncullah doktrin-doktrin di bawah ini :
Al Qur’an yang sebenarnya terdiri dari 17.000 ayat. Yang bisa mengumpulkan dan menghafal al Qur’an persis seperti apa yang diturunkan oleh Allah hanyalah para imam. Mereka mempunyai Mushaf Fatimah, yang tebalnya tiga kali lipat dari al Quran yang dipegang kaum muslimin sekarang, dan tidak ada satu hurufpun yang ada dengan al Qur’an sekarang.
Tentunya, masih banyak doktrin-doktrin Syiah yang bertentangan dengan aqidah umat Islam, bahkan doktrin-doktrin tersebut bisa mengganggu keamanan masyarakat, karena berujung pada revolusi berdarah untuk merebut kekuasaan. Oleh karenanya, umat Islam harus selalu waspada dengan gerakan-gerakan seperti ini, agar peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau seperti pembantaian umat Islam secara masal yang terjadi di Baghdad pada masa Khilafah Abbasiyah.
Kemudian terulang kembali di saat jatuhnya Saddam Husain, begitu juga sabotase berdarah yang terjadi di Mekkah al Mukarramah yang diikuti dengan pencurian Hajar Aswad, konflik berdarah yang tidak kunjung selesai yang terjadi di Pakistan, Yaman, dan Bahrain serta peristiwa –peristiwa lainnya, agar semua itu bisa dihindari khususnya di negara Indonesia yang mayoritas umat Islamnya bermadzhab Ahlus Sunah.
Sebenarnya orang yang mengatakan Al Quran Syi`ah tidak ada bedanya dengan Al Quran Sunni, dakwaan dan perkataan ini adalah usaha untuk mendekatkan antara syi`ah dan sunni. Akan tetapi bagi siapa yang mengetahui hakikat ajaran syi`ah, maka ia akan mengetahui bahwa usaha itu tidak mungkin. Al Qurannya saja sudah berbeda apalagi yang lain. Maka janganlah kita terpikau oleh rayuan Syi`ah yang mengakatakan kita harus bersatu dan harus bersaudara, karena kita tidak akan bisa bersatu dengan mereka bagaikan air dengan minyak. (risalahtauhidnews/moslem-idea
)

Ustadz (ABB) : “Tanpa Negara Islam, syariat tidak bisa ditegakkan”


JAKARTA – Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) kembali menegaskan pentingnya kaum Muslimin memiliki kekuasaan untuk menerapkan atau menjalankan syariat Islam. Tanpa negara Islam, maka kaum Muslimin tidak akan pernah bisa menerapkan syariat Islam secara kaafah (sempurna). Demikian pernyataan beliau di rutan Bareskrim Mabes Polri Jakarta.
Ust Abu Bakar Ba'asyir memberikan nasihatnya kepada kita semua umat Islam di negeri ini. Menurut beliau, masalah mendasar yang melanda umat Islam di negeri ini adalah karena tidak faham masalah tauhid. Padahal kata beliau, tauhid dan iman adalah ruh Islam, yang apabila rusak maka semua amalan dalam Islam batal dan tidak diterima oleh Allah SWT.
Perusak tauhid umat Islam menurut beliau adalah faham murjiah, yang mengatakan bahwa iman cukup di dalam hati. Artinya, faham murjiah ini menetapkan bahwa syarat sahnya iman hanya pada keimanan dalam hati dan ikrar lisan. Tidak ada amal yang menjadi syarat sahnya iman. Maka menurut faham ini tidak ada amal yang membatalkan iman.
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menjelaskan bahwa iman adalah keyakinan di dalam hati, yang diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Maka, seseorang bisa batal imannya jika lisannya mengucapkan kekufuran, atau amal perbuatannya melakukan kekufuran.
Parahnya, faham murjiah yang menurut beliau lebih berbahaya daripada kesesatan khowarij, saat ini banyak dianut ummat Islam di Indonesia. Ummat Islam saat ini banyak yang terjerumus ke dalam kemurtadan karena doktrin sesat murji’ah ini. Kesesatan faham murji’ah ini banyak dimanfaatkan oleh toghut yang menguasai negara-negara ummat Islam termasuk toghut di Indonesia. Padahal kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, para toghut ini jelas-jelas menolak perintah Allah SWT untuk mengatur negara dengan syariat Islam secara kaafah (sempurna).
Dan beliau berpesan kepada ummat Islam agar mengganti rezim toghut ini dengan sistem Islam. Ummat Islam harus memiliki kekuasaan, negara Islam, Daulah Islam, atau apapun namanya, agar syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna, dan hal ini adalah tuntutan tauhid.
Adapun jalan, atau strategi untuk mencapai hal itu menurut beliau hanya dua, yakni dakwah dan jihad. Tidak akan pernah bisa negara Islam diterapkan dengan jalan demokrasi yang syirik, karena itu mencapur adukkan antara yang haq (Islam) dengan yang batil (demokrasi). Hanya dengan dakwah dan jihad, ummat Islam dapat mendirikan negara Islam yang kemudian menerapkan syariat Islam secara kaafah (moslem-idea)

Minggu, 11 Desember 2011

Nasir Abbas Mengkampanyekan Deradikalisasi Kpd Ust. Abu Bakar Ba’asyir


JAKARTA - Siang itu kamis, 01 Desember 2011 kepala Rutan Bareskrim menyampaikan kepada Ust. Abu Bakar Ba’asyir bahwa nanti sore prof. Ahmad Syafi’i Mufid dari Departemen Agama akan datang kembali untuk membesuk, yang sebelumnya sempat datang menemui Ustadz Abu pada senin, 28 November 2011 untuk bertukar pikiran mengenai dien (baca:agama) Islam. Ust.Abu berpikir bahwa Prof. Ahmad Syafi’i mungkin akan melanjutkan pembahasan kemarin karena ustad abu sempat memberikan buku karya beliau selama di Bareskrim yaitu Buku Risalah Tauhid dan Iman.

Sebelum ashar Ust. Abu dipanggil ke ruangan karena tamunya sudah datang. Ternyata yang datang bukan prof. Ahmad Syafi’i, namun tiga orang yang sudah sangat dikenal loyalitasnya kepada toghut dan perlawanannya terhadap para mujahidin dan ulama yang berjihad khususnya di Indonesia. Mereka adalah Nasir Abbas, Abdurrahman al Ayyubi, dan satu orang lagi teman mereka yang kurang dikenal.

Ust. Abu menerima baik kedatangan mereka. Di awalnya seperti biasa mereka menanyakan kabar kesehatan ustad. Setelah itu mereka pun mulai berdialog. Ustad menyampaikan kepada Nasir Abbas; “Antum itu sudah kafir sebaiknya antum segera bertaubat, berhentilah membantu toghut dalam memerangi mujahidin. Taubat antum yang paling baik adalah pergi saja ke Afganistan atau ke Yaman sana untuk berjihad dan jangan pulang kembali, itu yang terbaik untuk antum.” Kata Ust. Abu tenang kepada Nasir. Nasir Abbas hanya terdiam mendengar Ustad. Abu menyampaikan itu. Salah seorang lagi Abdurrahman al ayyubi langsung menyampaikan bahwa: “Ustad tidak berhak mengkafirkan beliau, karena hakimlah yang mempunyai hak untuk menetapkan itu”.

Lalu Ust. Abu menjelaskan bahwa: “memang saya tidak berhak mengkafirkan siapa saja, tetapi saya tidak berani tidak mengkafirkan apa yang dikafirkan oleh Alloh dan Rosullulloh. Jadi yang mengkafirkannya itu bukan saya, saya hanya menjelaskannya saja bahwa perbuatannya itu dikafirkan oleh Alloh dan Rosululloh”
Ustadz juga menjelaskan bahwa N.K.R.I ini adalah negara kafir. Namun Abdurrahman al ayyubi menentang keras pernyataan ustad abu tersebut. “Indonesia ini adalah negara Islam ustad, karena mayoritas penduduknya adalah orang Islam dan jihad itu diperbolehkan kalau amirnya memerintahkan untuk berjihad (maksudnya amir: SBY)” tegas abdurrahman al ayyubi.

Kembali Ust.Abu menjelaskan kepada mereka: “dulu waktu saya masih di Malaysia, saya pernah disampaikan oleh ulama dari Thailand. Bahwa hati-hati kepada orang-orang salafi. Kalau kami (ulama thailand tersebut) menamakan mereka salafi dakhili. Karena mereka bentukan intern kerajaan Arab Saudi. Setelah saya pulang ke Indonesia saya melihat dan menemukan orang-orang salafi dakhili tersebut. Dan saya menyimpulkan bahwa paling sedikit ada dua tujuan salafi dakhili tersebut yaitu: satu menentang jihad dengan alasan tidak boleh jihad sebelum ada khilafah, kedua membantu toghut dengan alasan negara Islam itu adalah negara yang mayoritas penduduknya orang Islam di dalamnya masih terdengar suara azan.”

Akhirnya dialog yang terjadi tidak berujung (baca:alot), Ustadz Abu pun menyampaikan bahwa: “saya siap mempertanggungjawab dan berdialog serta kalau perlu saya siap untuk bermubahalah”. Abdurrahman Al Ayyubi pun menyampaikan: “saya juga siap berdialog dan mempertanggungjawabkan pernyataan saya”. Setelah hampir satu jam merekapun pamit pulang. (JMC)

Senin, 31 Oktober 2011

Keutamaan Puasa Arafah


Ibadah tathawwu' (sunnah; yang dianjurkan) merupakan perkara yang akan menambah pahala, menggugurkan dosa-dosa, memperbanyak kebaikan, meninggikan derajat, dan menyempurnakan ibadah wajib.

Allah Ta'ala berfirman,

فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرُُ لَّهُ

“Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lah yang lebih baik baginya.” (Qs. al-Baqarah: 184).

Demikian juga, hal itu merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, setelah melakukan kewajiban-kewajiban. Karena, mendekatkan diri kepada Allah itu dengan cara beribadah kepada-Nya dengan ibadah yang hukumnya wajib atau mustahab (yang disukai; sunnah). Mendekatkan diri kepada-Nya bukan dengan ibadah yang bid'ah tanpa bimbingan sunnah atau dengan kebodohan tanpa bimbingan ilmu. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits qudsi sebagai berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya, Allah berfirman, 'Barangsiapa memusuhi wali-Ku [Wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa-pen.], maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah; tambahan; yang dianjurkan) sehingga Aku mencintainya.'” (HR. Bukhari, no. 6502).

Di dalam hadits di atas terdapat dalil, bahwa barangsiapa yang menghendaki dicintai oleh Allah, maka urusannya mudah baginya, jika Allah memudahkannya padanya. Yaitu dia melakukan kewajiban-kewajiban dan melakukan ibadah-ibadah tathawwu' (sunnah), dengan sebab itu, dia akan meraih kecintaan Allah dan walayah (perwalian) Allah.” (Al-Fawaid adz-Dzahabiyah Minal Arba'in Nawawiyah, hal. 143).

Kemudian, di antara amalan tathawwu' yang utama adalah puasa. Karena, puasa merupakan ibadah yang dapat mengekang nafsu dari keinginannya. Puasa juga akan mengeluarkan jiwa manusia dari keserupaan dengan binatang menuju keserupaan dengan malaikat. Karena orang yang berpuasa meninggalkan perkara yang paling lekat pada dirinya, yang berupa makanan, minuman, dan berhubungan dengan istrinya, karena mencari ridha Allah. Sehingga, itu merupakan ibadah dan ketaatan yang merupakan sifat malaikat. Sebaliknya, jika manusia mengumbar hawa nafsunya, maka dia lebih mendekati alam binatang.

Keutamaan Puasa Arafah

Di antara puasa tathawwu' yang paling utama adalah puasa Arafah. Yang dimaksud dengan puasa Arafah adalah puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada saat itu kaum muslimin yang melakukan ibadah haji berkumpul wukuf di padang Arafah.

Sebagian orang mendapatkan masalah ketika mendapati tanggal/kalender di negaranya berbeda dengan di Arab Saudi. Maksudnya, pada hari ketika jamaah haji sedang berkumpul di Arafah, yang hari itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah di negara Arab Saudi, tetapi kalender di negaranya pada hari itu adalah tanggal 10 Dzulhijjah, umpamanya. Maka, apakah dia berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut kalender di negaranya sendiri, padahal di Arab Saudi masih tanggal 8 Dzulhijjah, dan para jamaah haji belum menuju Arafah. Atau dia berpuasa pada tanggal 10 Dzulhijjah menurut kalender di negaranya sendiri dan di Arab Saudi sudah tanggal 9 Dzulhijjah, dan para jamaah haji berkumpul di Arafah.

Dalam hal ini yang menjadi ukuran adalah wuquf di Arafah, bukan kalender di negaranya. Karena di dalam hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut dengan “puasa hari Arafah”, sehingga mestinya wuquf di Arafah itulah yang menjadi ukuran. Wallahu a'lam.

Keistimewaan Hari Arafah

Hari Arafah memang salah satu hari istimewa, karena pada hari itu Allah membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah di hadapan para malaikat-Nya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

“Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, 'Apa yang dikehendaki oleh mereka ini?'” (HR. Muslim, no. 1348; dan lainnya dari 'Aisyah).

Olah karena itulah, tidak aneh jika kaum muslimin yang tidak wukuf di Arafah disyariatkan berpuasa satu hari Arafah ini dengan janji keutamaan yang sangat besar.

Marilah kita renungkan hadits di bawah ini, yang menjelaskan keutamaan puasa Arafah, yang disyariatkan oleh Ar-Rahman Yang Memiliki sifat rahmat yang luas dan disampaikan oleh Nabi pembawa rahmat kepada seluruh alam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah).

Alangkah pemurahnya Allah Ta'ala. Puasa sehari menghapuskan dosa dua tahun! Kaum muslimin biasa berpuasa satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, dan mereka sanggup melakukan. Maka, sesungguhnya berpuasa satu hari Arafah ini merupakan perkara yang mudah, bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala.

Barangsiapa membaca atau mendengar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia ini pastilah hatinya tergerak untuk mengamalkan puasa tersebut. Karena, setiap manusia pasti menyadari bahwa dia tidak dapat lepas dari dosa.

Dosa Apa yang dihapus?

Apakah dosa-dosa yang dihapuskan itu meliputi semua dosa, dosa kecil dan dosa besar? Atau hanya dosa kecil saja? Dalam masalah ini para ulama berselisih.

Sebagian ulama, termasuk Ibnu Hazm rahimahullah, berpendapat sebagaimana zhahir hadits. Bahwa semua dosa terhapuskan, baik dosa besar, atau dosa kecil.

Namun jumhur ulama, termasuk Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Ibnu Rajab, berpendapat bahwa dosa-dosa yang terhapus dengan amal-amal shalih, seperti wudhu', shalat, shadaqah, puasa, dan lainnya, termasuk puasa Arafah ini, hanyalah dosa-dosa kecil.

Pendapat jumhur ini di dukung dengan berbagai alasan, antara lain:

1.Allah telah memerintahkan tobat, sehingga hukumnya adalah wajib. Jika dosa-dosa besar terhapus dengan semata-mata amal-amal shalih, berarti taubat tidak dibutuhkan, maka ini merupakan kebatilan secara ijma'.

2.Nash-nash dari hadits lain yang men-taqyid (mengikat; mensyaratkan) dijauhinya dosa-dosa besar untuk penghapusan dosa dengan amal shalih.

3.Dosa-dosa besar tidak terhapus kecuali dengan bertobat darinya atau hukuman pada dosa tersebut. Baik hukuman itu ditentukan oleh syariat, yang berupa hudud dan ta'zir atau hukuman dengan takdir Allah, yang berupa musibah, penyakit, dan lainnya.

4. Bahwa di dalam syariat-Nya, Allah tidak menjadikan kaffarah (penebusan dosa) terhadap dosa-dosa besar. Namun, kaffarah itu dijadikan untuk dosa-dosa kecil (Lihat Jami'ul 'Ulum wal Hikam, syarh hadits no. 18, karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali).

Puasa Arafah untuk Selain yang Berada di Arafah

Kemudian, bahwa disunnahkannya puasa Arafah ini berlaku bagi kaum muslimin yang tidak wuquf di Arafah. Adapun bagi kaum muslimin yang wuquf di Arafah, maka tidak berpuasa, sebagaimana hadits di bawah ini,

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

“Dari Ummul Fadhl binti al-Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, 'Beliau berpuasa.' Sebagian lainnya mengatakan, 'Beliau tidak berpuasa.' Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari, no. 1988; Muslim, no. 1123).

Setelah kita mengetahui keutamaan puasa hari Arafah ini, maka yang tersisa adalah pengamalannya. Karena setiap manusia nanti akan ditanya tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan. Semoga Allah selalu memberikan kepada kita untuk berada di atas jalan yang lurus. Amin.

Penulis: Ustadz Abu Isma'il

Dialog 'Terbuka' Salafy di Demo Laskar Islam


Dialog dan bedah buku Antara Jihad dan Terorisme di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) di Solo pada hari Sabtu 29 Oktober 2011 di demo puluhan laskar Islam. Pasalnya acara dialog yang katanya "terbuka" tersebut dalam prakteknya tidak terbuka. Acara ini tertutup dan mayoritas yang datang hanya dari kelompok Salafy, pintuk gerbang gedung IPHI sendiri juga ditutup rapat, hanya dibuka celah sedikit saja seperti yang biasa dilakukan dalam acara-acara Daurah kelompok Salafy.

Selain itu, pengunjung yang datang diperiksa ketat, paling tidak hal itu dirasakan beberapa wartawan, tas mereka diperiksa satu-persatu dengan teliti.

Foto Dilarang
Selain ketatnya pemeriksaan, para pewarta juga tidak boleh mengambil gambar atau foto. Panitia berdalih mengambil foto adalah melanggar "syar'i", namun beberapa fotografer tetap "ngeyel" memotret jalannya "dialog".

Pembicara yang dihadirkan adalah Abu Muhammad Dzulqarnain, penulis buku Antara Jihad dan Terorisme dan Abdul Barr Kaisenda, pengasuh Radio An Nasri Jakarta. Kedua pembicara tersebut berasal dari kalangan Salafy semua. Tidak ada undangan kepada MUI kota Surakarta atau dari kalangan pondok pesantren lainnya, sehingga bukan merupakan acara dialog tapi acara bedah buku karangan Abu Muhammad Dzulqarnain tersebut.

Selain itu, sound system dalam acara dialog tersebut tidak dapat didengarkan dari luar gedung, kecuali hanya terdengar pelan dan tidak jelas.

Dalam isiannya, kedua pembicara menilai, aksi yang selama ini dilabeli jihad dengan melakukan pengeboman di berbagai kota di Indonesia, sebagai perbuatan teror, dan bukan jihad.

"Jihad itu dilakukan hanya kepada kaum kafir harbi, yakni kaum yang membuat tindakan mengarah pada kemunkaran, serta menghalangi umat islam dalam melakukan ibadah. Padahal selama ini yang dibom adalah turis asing yang mestinya dia mendapatkan jaminan keamanan dari Negara, termasuk umat islam," kata salah satu pembicara.

Demo Laskar
Pada sekitar pukul 10.30 WIB, di depan gedung IPHI tiba-tiba datang puluhan laskar Islam. Mereka datang menggunakan kendaraan bermotor dan mobil bak terbuka. Mereka berunjuk rasa, karena keberatan dengan acara dialog tersebut yang mereka anggap membuat situasi kota Solo menjadi tidak kondusif, karena kelompok Salafy telah memicu suasana panas dengan diadakannya dialog tersebut.


Sementara dari luar pagar gedung IPHI, kelompok laskar Islam yang berunjuk rasa mengingatkan, bahwa tindakan keji yang dimotori Amerika pada umat Islam telah terjadi di Afghanistan, Irak, Libya, dan Negara lainnya, juga Israel kepada Palestina.

"Jangan menghakimi saudara sendiri dengan tuduhan khawarij, hanya karena mereka mencoba membela saudaranya yang ditindas kafirin Amerika. Ingat, kamu juga muslim," kata salah seorang dari kelompok laskar, lewat orasi di atas mobil.

Mereka memang tidak boleh masuk ke gedung IPHI tempat digelarnya diskusi. Puluhan polisi menjaga ketat aksi demo dan juga tempat diskusi tersebut. Pintu masuk ditutup, dan kelompok laskar Islam yang mengusung bendera hitam bertuliskan "Laa Ila ha Illallah" hanya diperbolehkan lewat di depan gedung IPHI, dengan kawalan ketat.

Kurniawan dari ISAC (Islamic Studies and Action Center) mengatakan, sebelum acara digelar dirinya sudah mencoba menjembatani antara panitia diskusi dan dari kelompok laskar Islam.

"Kalau mau menggelar diskusi, seharusnya terbuka, semua unsur diundang. Tapi ternyata mereka hanya mengundang pembicara dari kelompok yang tidak setuju aksi jihad. Bahkan MUI juga tidak diundang. Ini melukai kelompok lain," kata dia.

Hingga acara selesai, tidak ada tindakan pembubaran dari aparat Polresta Surakarta. Petugas hanya menjaga saja di luar gedung.

[muslimdaily.net/ suara merdeka]

Jumat, 28 Oktober 2011

Arab Saudi pancung dua pelaku pembunuhan


RIYADH – Arab Saudi para hari Kamis (27/10/2011) memancung dua laki-laki yang terjerat kasus pembunuhan, salah satu pelaku menabrak korban dan yang lainnya menabrak mobil korban, kementerian dalam negeri Arab Saudi menyatakan.

Mohammed al-Harbi, seorang warga negara Saudi, dihukum karena “sengaja” menabrak dan membunuh pasangan Rabih al-Asiri dan istrinya, Nasila Asiri, Kementerian Dalam Negeri Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita negara, SPA.

Ia dipenggal di provinsi Qunfudah, bagian barat kerajaan.

Dalam pernyataan terpisah, kementerian itu mengatakan bahwa satu orang lainnya, Abdullah al-Jahdali, juga dipenggal di provinsi barat Al-Laith, setelah ia dinyatakan bersalah karena sengaja menabrak mobil Fahd al-Jahdali dan membunuhnya.

Eksekusi dua orang ini menggenapkan jumlah orang yang dipenggal menjadi 67 orang selama satu tahun ini.

Awal bulan ini, kantor hak asasi manusia PBB menyatakan keprihatinan atas tingkat eksekusi di Arab Saudi, dan menyerukan untuk segera menghentikan praktek tersebut.

Pernyataan PBB ini datang setelah kerajaan memenggal 10 orang laki-laki, delapan orang dari Bangladesh dan dua orang dari Saudi, pada hari yang sama.

Pemerkosaan, pembunuhan, murtad, perampokan bersenjata, dan perdagangan narkoba semua dihukum mati berdasarkan interpretasi ketat hukum Syariah ala negara penghasil minyak yang memiliki hubungan khusus dengan Amerika Serikat ini. (arrahmah/moslemidea)

Selasa, 25 Oktober 2011

Upaya me-REDUKSI (Memotong) Syari’at Jihad & Istilah Islam lainnya dengan DERADIKALISASI


Yogyakarta, 24 Oktober 2011 – Ditengah hiruk pikuk pernikahan putri Raja Ngayogyokarto Sultan Hamengkubuwono X yang katanya Super Megah serta pemberitaan media yang “Super Megah” pula (karena ditayangkan secara terus menerus bahkan selalu masuk Headline News dan mengalahkan berita pembantaian dan pembakaran rumah warga Muslim di Ambon), ternyata hal tersebut tidak mempengaruhi persiapan acara Kajian Ilmiah dan Bedah Buku bertajuk “Mewaspadai Upaya Becah Belah &Pendangkalan Aqidah Umat Islam dengan DERADIKALISASI”.

Kajian ilmiah dan bedah buku yang diselenggarakan oleh Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah (MMM) Yogyakarta dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) D.I. Yogyakarta tersebut, ternyata lepas (atau dilepaskan) dari “mata” kamera para juru warta baik media cetak maupun media-media TV nasional yang pada waktu itu masih berada di Yogyakarta. Hal ini sungguh ironi,sebab jarak antara Keraton Yogyakarta tempat acara pernikahan berlangsung dengan tempat acara kajian ilmiah dan bedah buku hanya berjarak kurang dari 5 km. Acara pernikahan yang sarat dan kental dengan ritual syirik yang bisa merusak aqidah umat islam Indonesia ditayangkan berulang kali di TV-TV, ternyata bisa mengalahkan acara kajian ilmiah yang sangat berpotensi mencerdaskan masyarakat.

Kajian ilmiah dan bedah buku sendiri diadakan pada hari Ahad pagi 23 Oktober 2011 bertempat di Aula Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Jogja.Dalam acara yang merupakan refleksi dari sebuah buku yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta berjudul “Kritik Evaluasi dan Dekontruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslimin di Indonesia” ini, tampil sebagai pembicara yaitu Pimpinan Ponpes Al-Islam Solo yang sekaligus mewakili MUI Surakarta, KH. Mudzakkir. Kemudian dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah hadir Prof. Dr. Yunahar Illyas, MA. Serta H. M. Mahendradatta, SH.MA.MH.Ph.D, selaku Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim (TPM).

Acara sendiri berjalan dengan lancar dan menuai antusiasme yang luar biasa dari para peserta yang didominasi oleh mayoritas dari warga Muhammadiyah. Bukti dari hal ini adalah banyaknya para peserta yang datang lebih awal (jam 08.00 Aula sudah penuh), padahal acara baru akan dimulai pukul 09.00 wib sampai dhuhur.

Pada Pemaparan awal disampaikan oleh KH. Mudzakkir Perwakilan dari MUI Surakarta, beliau mengatakan “Usaha-usaha yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terrorisme dengan dalih deradikalisasi sebenarnya adalah upaya deislamisasi terhadap nilai-nilai keislaman.” Ucap beliau

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa apa yang dinamakan sebagai kasus-kasus terorisme sekarang ini tidak lain merupakan rekayasa orang-orang yang anti islam. “Berbicara masalah Terorisme, maka hal itu tidak terlepas dari berbagai kepentingan para penguasa negeri ini dan juga Barat. Maka dengan hal itu HARAM bagi saya dan seorang muslim untuk mempercayai segala pemberitaan yang berkembang di media-media (baik cetak atau elektronik - red) sekuler bila belum jelas sumbernya. Toh mereka (media) mendapat berita hanya dari satu sumber saja, yaitu dari polisi. Dalam islam, Allah melarang kita untuk mempercayai berita yang datangnya dari orang fasik, in jaa-akum fasiqun bi nabain fatabayyanu”. Tegas beliau

Dalam hal ini, beliau memberi contoh bahwa pada waktu pelaku Bom Bali I masih hidup dan berada didalam penjara Nusakambangan, maka beliau bisa ber-tabayun langsung dengan mereka. Dan mereka memang mengakui telah memasang Bom di beberapa tempat di Bali. Tapi menurut beliau dan beberapa pakar dan ahli Bom, Bom yang dipasang Amrozi CS itu hanya bisa melukai beberapa orang saja. Tapi fakta dilapangan, kenapa Bom yang seharusnya hanya bisa melukai beberapa orang kemudian bisa membunuh 202 orang??? Dan yang lebih aneh lagi, Bom yang digunakan Amrozi CS jenisnya TNT, tapi pada waktu olah TKP, yang ditemukan polisi berjenis Mikro Nuklir.

Terakhir, beliau mengimbau kepada ummat islam jangan latah menuduh saudara muslim lainnya dengan sebutan teroris atau pelaku Bom Bunuh diri. “Saya himbau kepada ummat islam jangan mudah menyebut saudara muslim lainnya dengan sebutan teroris. Jangan pula dengah mudahnya menuduh saudara muslim lainnya melakukan Bom atau Bunuh Diri. Sebab orang-orang yang yang meninggal tersebut atau orang-orang yang ditembak mati Densus 88 itu belum kita klarifikasi dan belum pula disidangkan seperti yang terjadi pada Noordin Muh. Top, Dr. Azhari atau 2 orang yang ditembak mati Densus 88 di Cawang Jakarta Timu. Terlepas kita setuju atau tidak dengan cara mereka. Pada waktu terjadi ledakan di Masjid Adz Dzikro komplek Polres Cirebon, dihadapan para wartawan saya katakan bahwa peristiwa tersebut tidak benar. Tapi apakah kita tau, betul gak dia itu yang murni melakukannya, betul gak dia itu melakukan bom bunuh diri atau dia sebenarnya yang dibunuh dan hanya diperalat oleh tangan-tangan gelap intelejen??? Tapi didalam pemberitaan yang berkembang, dibuatlah opini bahwa mereka-mereka itu melakukan Bom Bunuh Diri. Jadi dalam hal ini kita harus pandai-pandai menelaah berita.” Tutup beliau

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Yunahar Iliyas, MA. pertama kali mengatakan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh umat manusia dan tidak pernah mengajarkan kekerasan, namun beliau menambahkan bahwa hal tersebut bukan berarti melarang umat Islam untuk melakukan tindakan yang secara fisik bersifat “keras”.

Yang dimaksud dengan kekerasan dalam konteks ini bukanlah semua tindakan-tindakan yang bersifat fisik, sebab kalau semua tindakan-tindakan fisik masuk dalam kategori tindak kekerasan maka hukuman pidana yang diatur dalam hukum Islam pun bisa include dalam kategori tindak kekerasan misalnya terkait penerapan hukuman pancung (baca - mati) bagi pelaku pembunuhan, potong tangan dan hukum-hukum terkait peperangan. Dalam masalah terrorisme, sampai saat ini belum terdapat definisi yang diterima oleh semua pihak tentang apa itu “terrorisme”. Secara politik, sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan penilaian yang berbeda.

Jadi dalam hal ini, yang dimaksud tindak kekerasan adalah perbuatan yang melanggar hukum. Sedangkan bentuk hukum yang dijadikan acuan ummat islam harusnya adalah bersumber dari Al Qur’an dan As Sunah Shohihah.

“Pejuang Hamas adalah terroris menurut pemerintah Israel, namun bagi rakyat Palestina mereka adalah pejuang kemerdekaan (freedom fighter) bangsa Palestina yang berusaha membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Begitu juga ketika Belanda menguasai Indonesia, para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia akan dicap terroris oleh pemerintah kolonial pada masa tersebut. Namun bagi rakyat Indonesia para pejuang tersebut adalah pahlawan kemerdekaan yang jika gugur akan dimakamkan di makam pahlawan.” Tambah beliau.

Dalam skala internasional, hal yang menjadi persoalan adalah adanya ketidakadilan dan ketidakseimbangan kekuatan politik dunia. Karena dunia dikuasai oleh Amerika dan sekutu-sekutunya, maka semua yang bertentangan dengan kepentingan Amerika dan sekutunya akan dianggap sebagai tindakan terrorisme.

Yang ke-dua beliau sedikit memberikan informasi kepada MUI Solo dan yang hadir semua bahwa tidak ada nama Hamka Hasan yang diklaim BNPT sebagai klien orang MUI Pusat. “Saya sudah lama di MUI Pusat, tapi baru akhir-akhir ini mendengar nama Hamka Hasan. Biasanya kalau ada acara keluar, yang diamanahi dan sering tampil ke publik adalah KH. Ma’ruf Amin. Jadi jelas BNPT dalam hal ini memang ingin memecah belah ummat islam dengan “membonceng” nama MUI Pusat sebagai covernya”.

Ketiga, dalam membahas masalah Jihad, Prof. Yunahar juga mengatakan bahwa saat ini terdapat berbagai upaya untuk mereduksi(memotong) makna Jihad. Baik dilakukan oleh kalangan umat Islam sendiri maupun oleh kalangan yang antipati terhadap Islam. Banyak kalangan yang terjebak dalam memahami bahwa perang dalam Islam hanya dilaksanakan dengan tujuan mempertahankan diri.

Beliau mengutip perkataan Sayyid Qutub rh. yang mengatakan bahwa Jihad dalam arti Qital (perang) tidak hanya dilakukan semata-mata untuk membela diri apabila umat Islam diperangi maupun diusir dari negerinya, akan tetapi Jihad juga dibenarkan dalam rangka menegakkan agama. Beliau mencontohkan dengan penaklukan daerah Syam di bawah komando Abu Ubaidah bin Jarrah ra. serta Khalid bin Walid ra. yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. yang dilakukan bukan dalam rangka membela diri namun demi memperluas dan menegakkan Islam.

“hari ini, Jihad-pun dan istilah islam lainnya di REDUKSI. Yang ingin mereduksi adalah orang yang antipati dengan islam, dan bahkan kebanyakan dari orang islam sendiri yang mengikuti kemauan hawa nafsunya. Berperang di jalan Allah atau Jihad tidak hanya sekedar untuk membela dir. Tapi Jihad juga bisa berarti untuk menegakkan agama dan menghilangkan fitnah. Fitnah bisa diartikan dengan menghalangi manusia untuk beribadah kepada Allah. Beribadah itu artinya luas, termasuk ber-Jihad dijalan Allah sebagai upaya untuk menegakkan hukum-hukum Allah dimuka bumi juga masuk dalam kategori Ibadah”. Tutup beliau

Sementara itu praktisi hukum dari Tim Penggacara Muslim, Mahendradatta menyampaikan bahwa banyak sekali terdapat ketimpangan-ketimpangan dalam praktek penanngulangan terrorisme, terutama dalam masalah peradilan. Banyak fakta-fakta yang diminta oleh TPM untuk dibuka di pengadilan dalam berbagai persidangan kasus terrorisme namun sengaja ditutupi oleh majelis hakim maupun pihak yang berwenang.

Beliau juga menyampaikan bahwa kasus terorisme merupakan stigmatisasi untuk memperburuk citra umat islam dan islam itu sendiri. “Kasus terorisme merupakan stigmatisasi dan penggiringan opini untuk memperburuk umat islam. Buktinya adalah pada waktu seorang yang dianggap teroris ditangkap, rame-rame media memberitakannya secara LIVE dengan sangat negatif sekali. Tapi pada waktu masuk persidangan dan sidang dilakukan terbuka untuk umum, tidak ada satu-pun media yang memberitakannya secara LIVE, kecuali sidang Ust. Abu Bakar Ba’asyir, namun hal itu-pun sarat dengan rekayasa”. Ujar beliau

Dengan lantang beliau juga mengatakan, ummat islam jangan takut dikatakan sebagai teroris, sebab TERORIS ITU ISLAM. “Hari ini saya katakan bahwa yang hadir jangan takut kalau setelah acara ini dikatakan sebagai pengikut teroris atau pembenar aksi terorisme atau bahkan sebagai teroris-nya. Sebab TERORIS ITU ISLAM. Bukti dari hal ini adalah yang membantai dan membakar rumah-rumah warga muslim di Ambon beberapa minggu dan hari yang lalu bukan disebut teroris, yang menembak aparat dan warag sipil di Papua kemarin juga bukan teroris (padahal senjata yang mereka gunakan lebih canggih dari senjata teroris islam), Republik Maluku Sarani (RMS) bukan teroris, dan Organisasi Papua Merdeka juga bukan teroris. Kenapa mereka tidak disebut TERORIS, karena mereka BUKAN ORANG ISLAM”. Lanjut beliau

Beliau sedikit menambahkan, “Kenapa saya berani mengatakan teroris itu islam, karena saya sudah melakukan penelitian dan perbincangan dengan para Hakim dan Jaksa yang menangani kasus terorisme. Pada waktu saya tanya, Apa definisi Teroris dan Terosime itu Pak Hakim dan Pak Jaksa??? Mereka gak bisa jawab. Akhirnya, saya-pun yang menjawab pertanyaan saya sendiri. Apakah yang disebut terioris itu yang suka ngebom-ngebom, kalau seperti itu, kenapa Israel dan Amerika tidak disebut teroris? Kalau yang disebut terioris itu yang membunuh warga sipil, kenapa Salibis OPM yang nembaki warga diangko-angkot tidak disebut teroris, kenapa Salibis Ambon dan Poso yang membantai warga sipil pada waktu Iedul Fitri tidak disebut teroris?” ungkap beliau

Kemudian yang paling aneh menurut beliau adalah, “Pencetus kata terorisme saja belum bisa mendefinisikan teroris dan terorisme itu apa, lha kita yang hanya mendengar kok sudah rame-rame menuduh si A teroris, si B teroris dan menyudutkan mereka sehingga menganggap mereka suatu abrang najis yang ahrus dihindari. Bahkan yang paling ironi yaitu ada banyak dari ummat islam atau kelompok islam atau parpol islam yang membuat spanduk tolak terorisme dan lain sebagainya”.

Terakhir beliau menjelaskan, sepengetahuan beliau bahwa buku ini adalah reaksi dari fitnah yang telah dilakukan oleh BNPT melalui oknum-oknum yang diklaim oleh mereka sebagi orag MUI Pusat. Jadi buku ini bukanlah pembenar atau pembela dari setiap aksi Bom atau kejadian yang disebut tindakan terorisme oleh orang yang anti islam (meskipun dia secara KTP bertuliskan islam - red).

“Jadi buku ini hanya sekedar khazanah keilmuan. Karena saya akhir-akhir ini mendengar bahwa Jaksa Agung Muda Intelejen (Jamintel) Kejagung mencekal dan melarang 9 buku-buku islam bahkan ada buku Tafsir yang dianggap mempunyai visi radikal, saya anggal hal itu terlalu berlebihan dan sangat jelas untuk melemahkan ajaran islam. Kalau Jamintel Kejagung mau mencekal dan melarang buku, harusnya Buku Tadzkiroh milik Ahmadiyah dan dianggap sebagai Kitab Suci-nya harusnya yang dilarang terlebih dahulu.” Tutup beliau

Buku ini dikeluarkan oleh MUI kota Surakarta dengan tujuan bukan hanya untuk menolak stigma negatif terhadap Islam, namun juga berusaha memberikan pandangan tentang bagaimana seharusnya dan sebaiknya menangani persoalan “terrorisme”. Karena terdapat banyak sekali unsur ketidakadilan dalam setiap penyelesaian masalah terrorisme, baik yang berskala nasional maupun international yang memberikan dampak-dampak negatif bagi pribadi muslim maupun dakwah islamiyah. (Ammar/KRU FAI)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites