Kami Siap Desain dan Cetak Kalender Hijriyah

Alhamdulillah kami siap membantu dalam Promosikan usaha anda melalui Kalender Hijriyah, Promosi sekaligus dakwah Kalender Islam

Ust. Abu Bakar Baasyir adalah Guru Bangsa

Ust. Abu Bakar Baasyir sangat pantas di beri gelar Guru Bangsa, label teroris untuknya adalah jauh panggang dari api

Meluruskan Pengelolaan Infak/Kas Masjid Hari Ini

Banyak diantara pengurus/takmir Masjid yang tidak tahu tentang pengelolaan dana Kas masjid yang sumbernya dari infak Jamaah masjid

Minggu, 22 Mei 2011

Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan

Wawancara suara Islam dengan tokoh sastrawan Taufik Ismail.


Tampaknya bangsa ini tidak kapok-kapok dengan sepak terjang kaum Komunis yang telah membunuh 100 juta manusia di 76 negara seluruh dunia selama 74 tahun kekuasaannya (1917-1991), atau 1,350 juta orang pertahun atau 3.702 orang perhari, sebagaimana disebutkan Taufiq Ismail dalam bukunya “Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma dan Narkoba”.

Sementara di Indonesia kaum Komunis telah dua kali menggerakkan kudeta (1948 dan 1965) yang akhirnya gagal total.

Meski tindakannya selalu brutal dan menghalalkan segala cara, ternyata masih ada manusia Indonesia yang menjadi pengagum Komunisme bahkan berusaha memperjuangkannya melalui film-film yang selama ini dibuatnya, seperti yang dilakukan sutradara muda, Hanung Bramantyo, suami aktris Zaskia Adya Mecca, yang merupakan istri keduanya setelah ribut di Pengadilan Agama dengan istri pertama. Adapun film garapan Hanung yang sangat kental bau Komunisnya sekaligus Sepilis (Sekularis, Pluralis dan Liberalis) serta menghina Islam adalah Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Saking kagumnya dengan Komunis, sampai-sampai ringtone hand phone Hanung bernada lagu khas Gerwani PKI, Genjer-Genjer. Hanung juga pernah membuat film yang sangat kental bau komunisnya, Lentera Merah, kalau diplesetkan menjadi Tentara Merah.

Film yang dibintangi aktris Revalina S Temat (Annisa) tersebut diambil dari Novel PBS karya Abidah El Khaleqy. Novel PBS sebelumnya mendapat penghargaan dari The Ford Foundation, sebuah NGO yang memperjuangkan faham Sepilis dan dikendalikan kaum Zionis Yahudi AS. Film tersebut mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya. Pesantren dan kiyainya dicitrakan kotor, sumber penyakit, sangat bengis, mudah main pukul, mengekang perempuan, mengekang hak berpendapat, menempatkan perempuan pada martabat yang rendah, suka main bakar buku-buku komunisme, suka main hukuman rajam secara serampangan dan sebagainya.

Dikisahkan, seorang santriwati yang juga putri kiyai pesantren, Annisa, dan tinggal di kompleks pesantren, frustasi karena ulah suaminya yang juga anak seorang kiyai yang sering melakukan kekerasan, akhirnya memutuskan untuk kembali dalam pelukan mantan pacarnya, Khudori, seorang alumnus sebuah perguruan tinggi di Kairo, Mesir. Bahkan Annisa yang sudah kebelet, mengajak Khudori untuk melakukan adegan ranjang di sebuah kandang kuda di pesantren tersebut, padahal kandang itu penuh dengan kotoran kuda. “Zinahi aku…Zinahi aku…!”, desak Annisa kepada Khudori sambil melepaskan jilbab dan pakaiannya satu persatu.

Ketika kedua insan lain jenis dan bukan suami istri tersebut sedang melakukan perzinahan, akhirnya datang rombongan santri dan suami Annisa mengerebeknya. Lalu keduanya mendapat hukuman rajam dengan dilempari batu oleh para santri. Lemparan batu baru berhenti setelah ibu Annisa berteriak sambil mengatakan, “ yang boleh melempar batu hanya orang yang tidak pernah melakukan dosa!”, padahal tidak ada orang yang tidak pernah melakukan dosa. Kata-kata dari ibu Annisa ini jelas mengutip dari cerita Kristen dari Kitab Injil, dimana dikisahkan seorang pelacur, Magdalena, dihukum rajam dengan dilempari batu. Kemudian datang Nabi Isa (Yesus) untuk menyelamatkannya dengan mengatakan, “yang boleh merajam hanya yang tidak punya dosa”. Jadi selain berbau Sepilis dan Komunis, film PBS juga beraroma Kristiani dan berusaha menghancurkan Islam lewat pintu budaya melalui film.

Jelas dengan menampilkan hukuman rajam yang sebenarnya tidak ada dalam novel aslinya, Karl “Hanung” Mark ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci syariat Islam dan pesantren, sebab sejak dulu pesantren merupakan basis terkemuka dalam melawan gerakan PKI di Indonesia. Padahal itu hanya utopia dirinya sendiri, sebab selama ini belum pernah ada satupun pesantren di Indonesia yang melakukan hukuman rajam kepada santrinya yang melakukan perzinahan. Seolah-olah pesantren merupakan negara dalam negara dengan menegakkan hukumnya sendiri. Jelas ini merupakan distorsi terhadap hukum Islam dan upaya mengadu domba umat Islam dengan pemerintah. Dengan membuat film PBS, sesungguhnya Karl “Hanung” Mark telah melakukan anarkhisme psikis, yakni melakukan penyerangan secara psikis terhadap umat Islam dan pesantren sebagai salah satu simbol Islam di Indonesia. Karena dendam terhadap pesantren yang telah berjasa menghancurkan PKI, maka Hanung menyalurkan perlawanannya lewat film PBS. Hanung dengan sengaja telah menebar virus ganas Sepilis dalam film, tujuannya untuk menimbulkan citra buruk terhadap Islam dan umatnya sambil menebalkan kantong koceknya.

Sebagaimana dalam film Lentera Merah, dalam film PBS Karl “Hanung” Mark all-out mendukung Komunisme alias PKI isme. Terbukti dalam film PBS ada adegan pembakaran buku-buku karya Karl Mark dan sastrawan kiri Pramoedya Ananta Toer seperti Bumi Manusia, oleh para santri di lingkungan pesantren. Padahal dalam novel aslinya, jalan cerita tersebut tidak ada sama sekali. Bahkan buku-buku karangan Pramoedya seperti Bumi Manusia dan Anak Segala Bangsa sepertinya dijadikan bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya. Hal ini menunjukkan Hanung selain pengagum Karl Mark juga pengagum Pramoedya. Padahal banyak sastrawan sekaliber Pramoedya dan karya-karyanya malah lebih bermutu seperti Buya Hamka. Mengapa Hanung tidak menjadikan buku-buku Buya Hamba sebagai bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya, justru buku sastrawan yang pernah menghuni penjara di Pulau Buru itu dijadikan bacaan wajib.

Dengan demikian, sudah sangat jelas dalam film PBS terdapat motif ideologi Komunis yang dimaksudkan untuk memperjuangkan kembali tegaknya Komunisme di Indonesia meski dalam bentuk lain. Hanung mafhum betul bahwa satu-satunya jalan untuk mengembalikan ajaran Komunisme di Indonesia adalah mendiskreditkan ajaran Islam dan umatnya, dimana sasaran pertamanya adalah pondok pesantren yang selama ini menjadi basis kaum Nahdhiyyin dengan memojokkan para kiyai NU.
Adapun sasaran berikutnya adalah mendiskreditkan para pemimpin Islam di Muhammadiyah. Sebab kedua Ormas Islam ini mempunyai pengikut terbesar di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika Hanung akan meluncurkan film KH Ahmad Dahlan “Sang Pencerah” tepat pada pelaksaan Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Jogjakarta 2-8 Juli ini. Namun anehnya justru para pemimpin Muhammadiyah tidak curiga sama sekali akan sepak terjang Hanung selama ini yang selalu mendiskreditkan Islam dan para pemimpin Islam seperti dalam film PBS. Sekarang sudah terbukti, pemeran utama sebagai KH Ahmad Dahlan dalam film “Sang Pencerah” adalah Lukman Sardi, putra seorang komponis muslim dan pemain biola kawakan Idris Sardi namun sekarang telah murtad dari Islam dan menjadi Kristen. Bayangkan, seorang ulama besar pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan kok diperankan oleh seorang murtad, jelas ini suatu penghinaan terang-terangan terhadap Islam dan Muhammadiyah itu sendiri. Apa Ketua Umum dan 12 Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang terpilih dalam Muktamar nanti tidak malu ketika melihat pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dilecehkan dan direndahkan pribadi dan martabatnya oleh Karl “Hanung” Mark ?

Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan sastrawan, budayawan dan penyair kawakan yang telah melahirkan banyak karya lagu Islami dari Bimbo serta putra seorang ulama besar dari Pekalongan KH Ghofar Ismail, Taufiq Ismail, seputar film Perempuan Berkalung Sorban (PBS).


Pak Taufiq, anda sudah menonton film Perempuan Berkalung Sorban ?

Saya sudah nonton PBS.

Bagaimana kesan Pak Taufiq ?

Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya, berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak dulu, berapa ya, sejak 63, 64 tahun lebih yang silam, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah menonton film Hanung ini.

Lho, kok sampai begitu, ya Pak ? Dihina ?

Ya ! Di dalam film itu, semua pesantren dan semua Kiyai jelek. Situasi pesantren kumuh, Kiyai-kiyai dengan keluarga digambarkan buruk. Kelakuan tak terpuji. Terasa fikiran utama yang mendasari pembuat film ini adalah spirit mencari cacat, membuka noda, memberi tahu penonton, ini lho yang reyot-reyot, yang sakit-sakit, yang pincang-pincang dari ummat Islam, tontonlah. Begitu.

Apakah ini film pertama yang Pak Taufiq tonton, yang terkesan menghina Islam ?

Tentu saja bukan yang pertama. Banyak film yang melecehkan ummat Islam, langsung tidak langsung, kentara dan tidak kentara. Tapi film-film itu dibuat di negeri lain, oleh orang-orang bukan Islam, dan memang dengan niat culas. Nah, PBS ini dibuat di dalam negeri, oleh sutradara bangsa sendiri. Ternyata niatnya sama juga. Culas.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa niatnya culas ?

Kalau niat Hanung baik, misalkan terhadap yang buruk-buruk itu dia mau mengeritik secara konstruktif, maka dia akan berikan perbandingan pesantren yang rapi indah, tidak kumuh dan dia tonjolkan tokoh Kiyai yang berwibawa, yang memancarkan sinar seperti lambang Muhammadiyah. Itu tak dilakukannya.

Pak Taufiq, bagaimana jalan cerita film Perempuan Berkalung Sorban itu, yang novel aslinya ditulis Abidah El Khaliqy ?

Wah, saya tidak mau jadi petugas humas Hanung itu, menjelas-jelaskan jalan cerita filmnya untuk pembaca. Buat apa? Itu bukan kerja saya. Anda sebagai wartawan, tuliskan sendiri ringkasan ceritanya. Itu tugas anda. Mengingatnya saja sudah muak saya.

Sudah sedemikian tidak nyamannya perasaan Pak Taufiq ?

Bukan saja tak nyaman. Muak. Mual. Anak muda ini mau menunjukkan dirinya kreatif, super-liberal, berfikiran luas, tapi dengan mendedahkan kekurangan-kekurangan dan cacat-cela ummat, yang dilakukannya dengan senang hati. Bahkan mengarang-ngarang hal yang tidak ada.

Misalnya bagaimana ?

Misalnya diada-adakannya adegan rajam. Di pesantren tidak ada hukuman rajam terhadap pelaku zina seperti fantasi dalam kepala Hanung itu. Kemudian tokoh Nyai, isteri Kiyai lewat dialog memberi komentar tentang hal itu dengan mengutip Injil tentang Maria Magdalena. Apa hubungannya itu? Kenapa harus diambil dari khazanah Kristen? Pengambilan khazanah Kristen bisa saja, tapi baru masuk akal kalau sebelumnya ada pendahuluan reasoning, ada pemaparan logikanya. Ini tidak ada. Mendadak saja, ujug-ujug, kata orang Pekalongan. Kentara betul Hanung mau tampak hebat, memperagakan luas horison pandangannya. Sok betul. Sombong.

Apakah di novel aslinya ada adegan rajam itu ?

Mboten wonten, Mas. Tidak ada. Di sini terjadi improvisasi sutradara. Dan ini improvisasi yang kurang ajar. Maaf keras betul kalimat saya. Maaf. Di bagian ini Hanung tidak minta permisi pada novelis Abidah El Khaliqy, tidak amit-amit. Dia main terjang saja. Dia tidak kenal etik.

Apakah penambahan jalan cerita atau improvisasi harus izin novelisnya ?

Tidak harus begitu. Tergantung bentuk kontrak juga. Tapi sebagai sesama seniman dalam kreasi karya bersama begini, paling tidak harus ada diskusi. Diskusi tersebut dalam hal ini tidak ada.

Tidak ada ? Bagaimana Pak Taufiq tahu ?

Saya pernah tanya Abidah. Mereka pernah ada diskusi tentang esensi cerita, mengenai feminisme, tentang kehidupan pesantren, tetapi mengenai rajam tidak ada. Lalu…

Lalu bagaimana, Pak Taufiq ?

Lalu dia tabrak saja, jebret, bikin adegan rajam. Lantas fantasi dusta berikutnya yang menyolok adalah adegan pembakaran buku di pesantren itu. Di novel Abidah tak ada adegan pembakaran buku. Abidah lebih logis dan tidak sok seperti Hanung.

Seingat saya pembakaran buku pengarang-pengarang anti komunis dilakukan PKI dan ormas-ormasnya di tahun 1964 atau 1965, betul Pak ?

Betul sekali. Nah, di pesantren itu, di kelompok santri, ada diskusi buku. Dibicarakan tentang pengarang yang tertindas, ditahan tanpa diadili, tapi tetap kreatif, tetap menulis buku. Yang dimaksud adalah Pramudya Ananta Tur. Diperlihatkan kulit buku novel Bumi Manusia, yang dilemparkan ke dalam unggun. Adegan ini dibikin-bikin, dan bodoh betul.

Maksudnya ?

Pertama, adegan ini dalam novel tak ada. Jadi ini keluar dari otak Hanung sendiri, tanpa permisi novelisnya. Kedua, kalau dia betul-betul anak Muhammadiyah, maka pengarang yang tertindas, ditahan tanpa diadili 2,5 tahun, tapi tetap kreatif, menulis buku, maka pengarang itu adalah Buya Hamka. Bukan Pramudya. Yang wajib disebut adalah Buya Hamka. Hanung ini, yang mengaku-ngaku anak Muhammadiyah, ternyata buta sejarah perjuangan tokoh besar Muhammadiyah ini. Karya luar biasa Buya Hamka tersebut adalah Tafsir Al Qur’an Al-Azhar, yang dirampungkannya dalam tahanan, selesai 30 juz, dikagumi seluruh dunia Islam.

Kalau begitu Hanung keliru besar, menokohkan Pram dalam hal ini ?

Sangat keliru ! Tapi memang pada dasarnya dia kekiri-kirian, mode anak muda zaman kini, tidak sadar mengangkat diri sendiri jadi agen muda Palu Arit. Lagi-lagi Hanung rabun sastra: Pramudya tahun 50-an 60-an dalam karya-karyanya sinis terhadap orang sholat, benci kepada haji. Tokoh-tokoh haji dalam novel-novelnya buruk semua: mindring, kaya, bakhil, membungakan uang. Tapi di luar ini semua, menjelang meninggalnya, tanda-tanda menunjukkan Pramudya khusnul khatimah. Alhamdulillah. Mudah-mudahanlah Pram beroleh hidayah. Allah berbuat sekehendak-Nya.

Kembali kepada rasa tidak nyaman Pak Taufiq tadi…

Lebih dari tidak nyaman. Muak. Mual.

Silakan kalimat penutup, Pak.

Saya merasa dihina dan dilecehkan oleh film Perempuan Berkalung Sorban, disutradarai Hanung Bramantyo, yang menistakan lembaga pesantren dan tokoh Kyai, waratsatul anbiya, berlindung di balik topeng kebebasan kreasi dengan sejumlah improvisasi yang bodoh dalam semangat super-liberal. Para aktivis seni Marxis-Leninis-Stalinis-Maois saja di tahun 50-an 60-an tidak ada yang bisa membuat film pelecehan pesantren dan Kiyai seperti yang dilakukan Hanung di abad 21 ini. Kalau dia sudah beredar lima dasawarsa yang lalu, maka Hanung Bramantyo bagus diusulkan mendapat Bintang Joseph Stalin atau Anugerah Dipa Nusantara Aidit.***(moslem-idea/suaraislam)

Arab Saudi penggal warga Pakistan atas tuduhan pembunuhan


RIYADH - Arab Saudi pada hari Minggu (22/5/2011) memenggal kepala pria berkewarganegaraan Pakistan yang dinyatakan bersalah karena membunuh sesama warga di kota suci Mekkah, kantor berita resmi SPA mengatakan.

“Tareq Gaweid Ghulam, seorang Pakistan, telah membunuh Arif Khuda Bakhsh yang juga orang Pakistan, menggunakan kapak karena terjadi sengketa antara mereka,” lapor SPA.

Eksekusi terhadap Ghulam ini merupakan eksekusi yang ke-18 di kerajaan Saudi tahun ini, menurut hitungan AFP.

Pada tahun 2010, terdapat 27 eksekusi dilaporkan, turun dari 67 pada tahun 2009 dan 102 pada tahun 2008.

Arab Saudi yang merupakan negara sekular dan sangat kapitalis korporatif yang menangani selalu kasus pemerkosaan, pembunuhan, tindakan murtad, perampokan bersenjata, serta perdagangan narkoba dengan Syariat Islam. (moslem-idea/armh)

Minggu, 15 Mei 2011

Terbongkarnya Kedok Yahudi di Jakarta


Teka-teki itu terjawab. Selama ini menjadi sangat sulit memahami. Kemana arah gerakan yang mengusung ideologi plurasime?

Para penganut ideologi pluralisme itu mula-mula hanya menginginkan kebebasan beragama. Mereka menuntut setiap paham agama itu, diberi ruang hidup secara bebas di Indonesia. Tidak ada restriksi atau pembatasan. Termasuk adanya undang-undang yang mengatur keberadaan agama di Indonesia.

Gerakan yang mendapatkan dukungan media massa, lembaga swadaya internsional, dan pemerintahan Barat, berusaha dengan sangat gigih, memperjuangkan paham pluralisme di Indonesia. Mereka menggunakan segala kemampuan dan kekuataan yang mereka miliki, agar paham pluralisme itu eksis, dan kemudian mereduksi agama mayoritas di Indoensia, yaitu Islam.

Makanya, mereka berlindung dibalik baju pemerintah yang sekarang sedang getol-getolnya memerangi "terorisme". Mereka - penganut pluralisme sekarang meniupkan dengan sangat keras tentang ancaman radikalisme, ekstrimisme, dan fundamentalisme. Kaum pluralis dengan menggunakan media yang ada, terus melakukan kampanye tentang ide-ide kotor, yang ingin mereduksi secara total nilai-nilai Islam dalam kehidupan kaum Muslimin.

Tetapi, sekarang semua menjadi sangat terang benderang, para pengusung gerakan pluralisme itu, hanyalah alat, dan menjadi "brokers", yang tujuannya hanyalah untuk melegalkan agama dan komunitas Yahudi di Indonesia.

Mereka menginginkan agar pemerintah melegalkan agama dan komunitas Yahudi Indonesia. Di mana selama ini, aktivitas mereka tertutup, dan selalu menggunakan berbagai "cover" untuk menutupi gerakan mereka.

Gerakan pluralisme yang menginginkan pemerintah memberikan pengakuan dan hak yang sama setiap agama, hanyalah "prolog" (mukaddimah) dari gerakan yang lebih besar, yang tujuannya ingin menjadikan agama Yahudi dan para pengikutnya di Indonesia menjadi legal.

Dengan semakin mencairnya sikap umat Islam terhadap berbagai ideologi dan agama, maka itu menjadi peluang akan legalisasi terhadap agama Yahudi dan para pendukungnya di Indonesia.

Gerakan pluralisme itu, sudah menyusup ke seluruh Ormas Islam, dan ada tokohnya, yang memperjuangkan secara permanen dan terus menerus paham dan ideologi pluralisme itu. Gerakan ini mendapatkan angin saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden, dan dilanjutkan oleh "Wahid Institute", yang terus menggelorakan tentang pluralisme di Indonesia.

Esensi gerakan pluralisme itu, bukan hanya ingin mereduksi agama Islam, tetapi gerakan ini juga ingin menjadikan agama Yahudi sebagai "centrum" (pusat) dari semua agama, karena pandangan agama Yahudi, yang sangat rasis itu.

Dengan menelanjangi agama Islam, dan dengan ide-ide semua agama sama, kebebasan agama, dan toleransi agama, maka dititik inilah masuk agama Yahudi dan para pengikutnya, dan kemudian melakukan kooptasi terhadap semua agama dan ideologi yang ada di Indonesia.

Sekarang langkah-langkah deterent dan deideologisasi, khususnya terhadap paham agama, khususnya Islam, karena Islam akan menjadi batu sandungan bagi masuknya agama Yahudi di Indonesia.

Mereka menggunakan 'trik-trik' politik, yang akan membuat kalangan pemeluk Islam kehilangan sikap "sajaah" (keberanian) untuk menyatakan dirinya sebagai Muslim. "Isyhadu bi anna muslimin". Mereka melucuti umat Islam dengan sederet isu yang sengaja mereka semburkan. Teroris, ekstrimis, fundamentalis, dan radikal. Dengan gempuran yang mereka lakukan melalui media itu, mentalitas umat Islam menjadi ciut nyalinya, dan kemudian mereka melenggang untuk mendirikan agama Yahudi di Indonesia.

Sabtu depan, 14 Mei, 2011, rencananya akan berlangsung peringatan ulang tahun atau peringatan hari kemerdekaan Israel di Jakarta. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana ini bisa berlangsung di negeri yang mayoritas penduduk beragama Islam?

http://savindievoice.files.wordpress.com/2010/09/pluralism-1_ruunu_3868.jpg Sementara itu, Israel berdiri menjadi sebuah negara, tak lain melalui pengusiran, penghancuran, dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina.

Berulang kali terjadi pembantaian terhadap rakyat Palestina. Jumlahnya tidak sedikit. Mereka yang tewas dibunuh milisi Yahudi di Palestina. Jutaan orang yang diusir ke negara-negara lain, dan tanah kelahiran mereka dirampas. Kemudian, diduduki dan dijadikan negara yang bernama Israel.

Terakhir umat Islam disuguhi Israel sebuah episode tragedi kemanusiaan yang tiada taranya, yaitu berlangsungya genoside terhadap muslim Palestina Gaza, saat invasi militer Israel terhadap Gaza, bulan Januari 2010.

Hari-hari ini, rakyat Mesir, Jordania, Suriah, dan Arab lainnya, sedang mempersiapkan peringatan "Nakba". Peringatan yang memperingati pengusiran dan pembantaian yang dilakukan Yahudi di Palestina.

Israel juga secara sistematis berusaha menghancurkan Masjidil Aqsha, dan menggali torowongan di bawahnya. Kejahatan yang dilakukan Israel tidak akan pernah berhenti terhadap rakyat Palestina. Kejahatan yang tiada taranya, yang hanya bisa disamai oleh Hitler.

Selama ini, kaum Muslimin hanya menjadi objek dan tertuduh sebagai teroris, fundamentalis, ekstrimis, pelaku kekerasan. Tetapi, kenyataannya umat Islam yang selalu menjadi korban kaum rasis Yahudi-Israel.

Mereka terus berkampanye bahwa umat Islam itu selalu diidentikkan dengan pelaku kekerasan. Tetapi, sejatinya sejak dahulu kala, sampai saat ini yang paling banyak membunuh ummat Islam adalah kaum Yahudi dan Nasrani.

Mengapa umat Islam berdiam diri membiarkan dirinya terus menerus didzalimi secara kejam oleh mereka yang selalu meneriakkan pluralisme, kebebasan beragama, toleransi agama, inklusivisme?

Mereka itu sejatinya gerakan yang haus darah umat Islam. Di mana saja mereka menumpahkan darah umat Islam dengan menggunakan tangan orang lain. Tak layak orang beradab memperingati kemerdekaan Israel. Wallahu'alam. (MIdea/era)

19 Truk Minyak NATO Kembali Dibakar

Para pejuang di di Pakistan telah membakar setidaknya 19 truk minyak NATO yang membawa bahan bakar untuk pasukan asing pimpinan Amerika di Afghanistan.

Pejabat dan sumber-sumber lokal mengatakan kepada Press TV bahwa sebuah bom meledak di sebuah truk ydan menyebar ke beberapa ktruk minyak lain di sekitarnya di kawasan Landi Kotal di daerah Khyber Agency.

"Jumlah truk minyak NATO yang dibakar meningkatt\ jadi 19, sebelumnya empat belas truk minyak lainnya terbakar pada hari Sabtu," kata sumber resmi. Ke 19 truk tersebut hancur total.

Api juga menghancurkan puluhan toko-toko di daerah tersebut. Namun, tidak ada korban tyang dilaporkan.

Secara terpisah, militan menghancurkan dua truk minyak di jalan raya Jalalabad-Kabul di provinsi Laghman Afghanistan pada hari Sabtu.

Truk pasokan NATO sering menjadi sasaran serangan di Pakistan dalam beberapa bulan terakhir.

Pejuang pro-Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.(MIdea/

md)

Sabtu, 14 Mei 2011

Tembok Saksi Eksekusi Sigit dan Hendro


Di ujung gang Jalan Palagan Tentara Pelajar, desa Sanggrahan, Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, atau tepatnya di depan Apotik Sidorejo Sangrahan, menjadi tempat eksekusi Sigit Qordhowi dan Hendro serta penjual angkringan bernama Nuriman.

Bekas-bekas penembakan masih tertinggal di tembok putih setinggi lima meter di rumah berlantai dua milik Heru warga Sangrahan. Paling tidak masih ada bekas lubang peluru di tembok tersebut sebanyak tiga lubang. Sedangkan cipratan darah di tembok terlihat hingga setinggi tiga meter.

Polisi pagi tadi merilis pernyataan bahwa Sigit dan Hendro melakukan perlawanan hingga akhirnya di tembak mati. Warga sekitar tempat kejadian mengatakan sebenarnya banyak bercak darah, namun sudah dibersihkan oleh tim Densus 88 setelah melakukan penembakan.

Namun, yang menjadi janggal adalah bagaimana bisa Sigit dan Hendro ditembak akan tetapi darah yang muncrat (maaf) hingga ke tembok setinggi tiga meter, bercak darah tersebut tidak sempat dibersihkan tim Densus 88 hingga sekarang.

Menurut warga sekitar, tidak jelas apakah terjadi baku tembak atau hanya tembakan satu arah dari tim Densus. Sebelumnya Polri menyatakan Sigit dan Hendro melakukan tembakan membabi-buta.

Warga yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, ia mendengar keributan, lalu ia mendengar anggota Densus mengatakan "masih hidup", kemudian terdengar tembakan lagi. Warga ini berasumsi kalau sebelumnya Sigit dan Hendro masih hidup saat ditembak, kemudian di tembak hingga mati di depan rumah berlantai dua tersebut hingga menimbulkan bercak darah di tembok. Namun kenapa cipratan darahnya bisa setinggi 3 meter?

Beberapa wartawan yang pagi tadi ramai di lokasi kejadian juga berasumsi, kemungkinan Sigit atau Hendro ditembak dari bawah hingga cipratan darahnya ke arah atas. [muslimdaily.net]

Sigit Qordhowi, Komandan Tim Hisbah itu Ditembak Mati Densus 88


Menanggapi penembakan oleh tim Densus 88 terhadap Sigit Qordhowi dan Hendro Sabtu 14 Mei dinihari tadi, ISAC (Islamic Study and Action Center) mengadakan jumpa pers sore ba'da Ashar di Masjid Baitussalam Tipes.

Diketahui, Sigit Qordhowi adalah komandan laskar Tim Hisbah, sedang Hendro adalah salah satu anggotanya. Tim Hisbah adalah gerakan pemuda Islam di kota Solo yang seringkali mengadakan kegiatan Amar Ma'ruf Nahi Munkar seperti operasi kemaksiatan.

Dalam jumpa pers sore tadi ISAC menyesalkan insiden pembunuhan oleh Densus 88 terhadap aktifis Islam.

Dan inilah isi pernyataan sikat ISAC Solo:

Pers Release

ISAC Sesalkan Densus 88 Tembak Mati Komandan Tim Hisbah dan Warga Setempat

Hari ini Densus 88 Anti Teror kembali melakukan pembunuhan 2 orang Laskar Islam Solo dari Team Hisbah yaitu Sigit Qordhowi dan Hendro, serta seorang warga Sangrahan Sukoharjo bernama Nuriman selaku pedagan Angkringan.

Dari hasil Investigasi diperoleh data sebagai berikut:

1. Sigit Qordhowi dan Hendro meninggal ditembak jarak dekat sehingga darah tidak saja berceceran di tanah tapi juga di tembok warga ada sisa bercak darah di ketinggian 3 meteran.

2. Nur Iman berada di selatan TKP, sedangkan Densus berada di utara TKP, Sigit Qordhowi dan Hendro berada di tengah, secara logika sederhana peluru yang menyebabkan meninggalkan Nur Iman dari arah utara.

3. Densus 88 AT telah lama membuntuti yang bersangkutan, mestinya bisa dilumpuhkan dan ditangkap hidup-hidup.


ISAC menilai bahwa operasi yang dilakukan Densus 88 Anti Teror ini sebagai berikut:

1. Densus 88 Anti Teror tidak bisa mengemban misi Polri sebagai penegak hukum. Ia tidak hanya salah sasaran, namun juga gagal membuktikan di pengadilan.

2. Denga pendekatan menembak mati, maka Densus 88 terkesan menutupi kasus serta mengabaikan asas praduga tak bersalah.

3. Kami tidak setuju jika peluru yang menewaskan Nur Iman adalah dari Sigit Qordhowi tanpa ada Uji Balistik independen.

Untuk itu ISAC meminta :

1. Kepada Komnas HAM untuk mengusut kasus ini secara komprehensif atas dugaan pelanggaran HAM karena telah menghilangkan nyawa seseorang tanpa putusan pengadilan.

2. Kepada Irwasum dan Propam Mabes Polri supaya menindak tegas Densus 88 Anti Teror yang diduga telah salah tembak terhadap Nur Iman warga Sangrahan.

3. Kepada DPR RI segera mengevaluasi kinerja Densus 88 Anti Teror, supaya hal semacam ini tidak terulang terus-menerus.

Pernyataan dari ISAC ini ditandatangani oleh ketua ISAC M. Kurniawan, S.Ag;SH;MH dan sekretari Endro Sudarsono, S.Pd. [muslimdaily.net]

Kemana Infaq Jum’atan anda selama ini disalurkan/dimanfaatkan...??

“Mari sedikit kritis terhadap apa yang terjadi dengan masjid kita saat ini.....” ini barangkali ungkapan awal yang mesti saya sampaikan sebelum membahas lebih detil tema di atas.
Hari ini mayoritas ummat telah kehilangan kekritisannya, karena sikap kritis ummat ini seakan-akan telah menjadi barang langka, termasuk mengkritisi tentang apa yang ada di dalam rutinitas masjid kita hari ini, kelangkaan ini tak lain karena Pertama, Kebanyakan kita enggan atau merasa tidak nyaman melakukan sikap kritis, terlebih lagi terkait dengan masjid. Kedua, Kebanyakkan para takmir/pengurus masjid masih banyak yang beranggapan bahwa sikap kritis ini sebagai upaya untuk merusak jalinan ukhuwah masjid dan tatanan yang telah berjalan, maka jangan heran kalau jika ada yang bersikap kritis akan cenderung di “bunuh karakternya” dan jika perlu tidak boleh aktif dalam kegiatan masjid kecuali hanya sebatas sholat semata.
Hilangnya sikap kritis kaum muslimin saat ini terhadap masjidnya bukan tanpa akibat, banyak hal yang terjadi dimasjid kita yang masih perlu untuk dikritisi dan sekaligus diperbaiki, salah satunya yakni pemanfaaran/ penyaluran Infaq Jum’atan masjid yang barangkali kita selama ini berinfaq disetiap jum’at. Yang jadi pertanyaan adalah pernahkan selama ini anda berpikir tentang pemanfaatan dan penyaluran Infaq jum’atan anda selama ini ??? Atas pertanyaan ini, saya bisa memastikan bahwa kita kebanyakan tidak memikirkannya, entah karena kurang kritis atau memang kita tidak peduli terhadap apa yang terjadi di masjid kita saat ini.
Mari kita tenggok dan kita lihat kas masjid kita saat ini, yang terpampang cukup jelas di depan masjid, kira - kira berapa ??? Dan kemana selama ini disalurkannya ???. Maka, jika anda kritis anda akan terheran-heran, bahwa masjid kita saat ini kebanyakan mengalami surplus (kelebihan dana) atau dengan kata lain antara pemasukkan dan pengeluaran lebih banyak pemasukkannya, jika demikian yang terjadi maka masjid-masjid kita saat ini sudah dipastikan kas nya akan melimpah.
Untuk itu, anda jangan kaget jika masjid saat ini (untuk ukuran sedang, kas masjidnya bisa mencapai lebih dari Rp. 7 Juta), kalau anda kurang percaya, coba telusuri masjid disekitar anda, niscaya anda akan sependapat dengan saya. Lalu dana sebanyak itu untuk apa, yang jelas dana tersebut terkesan hanya sekedar terpampang di papan pengumuman, dan kurang optimal pemanfaatannya, mungkin hanya sebagai pelengkap semata, bahwa masjid harus ada papan pengumuman dan laporan keuangannya (biar pantas dikatakan masjid yang transparan dan akuntanbilitasnya baik),
Kondisi yang sebagaimana yang saya gambarkan di atas, membuktikan bahwa infaq jum’atan kita selama ini yang kita infaqkan di setiap jum’at ternyata kurang optimal pemanfaatannya, lalu siapa yang paling bertanggungjawab dalam persoalan ini ? Tak lain adalah Takmir/pengurus masjid setempat karena dipundanyalah infaq tersebut diamanahkan.
Tetapi seringkali para takmir/pengurus masjid juga berargumen bahwa dana kas masjid tersebut untuk cadangan masjid jika sewaktu-waktu membutuhkan, alasan ini terkesan tidak realistis dengan kondisi masjid hari ini, karena kenyataannya dana tersebut terlalu banyak untuk ukuran cadangan, seharusnya dana tersebut bisa segera disalurkan untuk ummat yang membutuhkan dan bukannya diendapkan? Dan tidak perlu merasa kuatir dengan kebutuhan dana rutin masjid, mengapa ?
1 Karena sebenarnya potensi dana yang masuk ke kas masjid selain rutinitasnya bisa diharapkan, besarnya pun sebenarnya cukup lumayan untuk pemberdayaan masjid, contohnya Infaq Jumatan masjid.
2 Seharusnya tidak perlu terjadi adanya pengendapan dana atau dana yang tidak termanfaatkan diluar batas kewajaran.
3 Karena kebutuhan pokok masjid, kalau dihitung-hitung tidak akan mencapai Rp 1 juta/bulan, paling-paling untuk masjid ukuran sedang kebutuhan dana hanya pada kisaran Rp 200.000,00 s/d Rp. 300.000,00/bulan saja. Perhitungan ini hanya untuk listrik masjid, tenaga kebersihan, transport khotib dan acara pengajian yang sederhana
Jika kebutuhan pokok/bulan ini bisa kita buat aman dalam waktu 5 bulan, maka kebutuhan pokok masjid hanya sebesar Rp 300.000,00 x 5 bulan = Rp 1.500.000,00 (untuk kurun waktu 5 bulan ke depan). Sedangkan apabila masjid memiliki saldo mengendap Rp 7.000.000,00 ini berarti besarnya dana yang mengendap (yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk ummat) sebesar Rp 7.000.000,00 - Rp. 1.500.000,00 = Rp. 5.500.000,00.

Lalu yang jadi pertanyaan, atas dasar apa dana yang mengendap tersebut tidak dimanfaatkan/disalurkan untuk ummat? ...Takut habis ..? Sebenarnya tidak ada alasan dana tersebut tidak segera disalurkan, apalagi jika alasan tersebut hanya berlandaskan ketakutan-ketakutan semata. Mengendapnya dana kas masjid merupakan tanggungjawab takmir/pengurus masjid saat ini, baik dihadapan manusia maupun Allah Swt, terlebih lagi jika ada masyarakat sekitar masjid yang sangat membutuhkan dana, misalmya untuk berobat, makan atau lainnya, sedang masyarakat tersebut telah berusaha untuk mencari dana kemana-mana tapi tidak mendapatkan hasil, disatu sisi ternyata dana kas masjid yang terpampang dipengumuman sangat melimpah, tentunya hal ini sangat kontras dan kurang relevan dengan fungsi yang seharusnya diperankan masjid, yakni memberikan perhatian ummat. Untuk itu, jika kasus yang saya gambaran diatas benar-benar terjadi dilingkungan masjid kita tentu hal ini merupakan tamparan yang sangat memalukan bagi pengelolaan masjid-masjid kita saat ini.
Maka dari itu dana kas masjid yang tidak dimanfaatkan untuk ummat dan hanya sekedar disimpan tentunya menjadi tanggungjawab dan amanah yang besar dipundak para takmir/pengurus masjid saat ini dan suatu saat pasti akan dimintai pertanggungjawabannya, karena memang tidak mudah menjadi Takmir/Pengurus masjid hari ini, selain dibutuhkan keikhlasan yang tulus, ternyata kepakaran dan kemampuan juga menentukan maju mundurnya ummat di sekitar masjid, terkhusus lagi yang mampu mengelola dana kas masjid secara baik. Maka jika anda seorang Takmir/Pengurus Masjid tapi tidak mampu mengurus dan mengelola masjid dengan baik, memang sebaiknya mundur dan menyerahkannya pada orang yang lebih mampu untuk mengelolanya, karena dengan menyerahkan pada orang yang lebih mampu akan menyelamatkan diri anda dihadapan Allah dan tentunya ummat akan semakin baik ditangan orang yang memang pantas untuk menjadi takmir/pengurus masjid. (Sumber :khoirotunhisan.org)

Selasa, 10 Mei 2011

Meluruskan Pengelolaan Infaq/Kas Masjid hari ini



Fenomena saat ini, banyak diantara pengurus/takmir Masjid yang tidak tahu tentang pengelolaan dana Kas masjid yang sumbernya dari infak Jamaah masjid dan ternyata masih ada saja takmir/pengurus masjid yang tetap bertahan untuk menyimpan dana kas masjidnya dan tidak segera menyalurkannya untuk ummat yang membutuhkan, takmir/pengurus tadi berdalil bahwa kas masjid untuk persediaan/cadangan dana kalau sewaktu-waktu dibutuhkan. 
          Walaupun alasan takmir/pengurus masjid ini tidak realistis dan wajar (karena jumlahnya terlalu banyak untuk ukuran candangan kas masjid) saya bisa memahami mengapa takmir/pengurus masjid ini memiliki pemahaman demikian. Pemahaman ini ternyata banyak dipegang oleh para takmir/pengurus masjid hari ini, sehingga untuk menjadikan dana kas masjid agar benar-benar optimal dan manfaat untuk ummat, sepertinya membutuhkan “keajaiban”.Untuk itu, jika pemahaman sebagaimana takmir/pengurus masjid di atas masih ada, saya amat yakin ummat kurang mendapatkan manfaat dan perhatian yang serius dari masjidnya, terlebih lagi untuk mewujudkan pengelolaan infaq /kas masjid yang baik, rasanya sangat mustahil untuk direalisasikan.
          Lalu mengapa pemahaman sebagian takmir/pengurus masjid di atas bisa ada? Salah satu faktornya yakni banyak takmir/pengurus masjid hari ini yang memiliki paradigma (cara pandang) yang salah atau kurang tepat terhadap pengelolaan infaq/kas masjidnya, sehingga dari cara pandang yang salah ini berakibat salah pula di dalam menerapkan atau menjalankan pengelolaan kas masjidnya. Adapun beberapa cara pandang yang dianggap keliru diantaranya :
1.    Banyak takmir/pengurus masjid yang masih beranggapan bahwa menyimpan dana (apalagi disimpan di bank) adalah cara yang paling tepat dan aman untuk mengelola kas masjid, sehingga seorang yang diamanahi mengelola dana kas masjid tidak terasa terbebani (karena disimpan di bank), padahal yang terjadi dengan disimpannya dana tersebut (sebagai wujud dari pengelolaan kas masjid hari ini), masjid hanya mendapatkan satu manfaat saja yakni rasa aman semata dan tidak mendapatkan manfaat lainnya semisal pemberdayaan ummat di sekitar masjid, kalaupun ada manfaat yang bisa dirasakan biasanya tidak sebanding dengan dana yang disimpan di bank tersebut, bahkan dana yang disimpan seringkali terus berkurang sebagai kompensasi atas biaya administrasi selama ditabung di bank.
Selain itu, jika dana kas masjid dimasukkan dalam bank, dan tidak segera disalurkan untuk ummat, siapa yang pada akhirnya memanfaatkan dana tesebut ? Mungkinkah masjid selaku penyimpan bisa memanfaatkan dana atau ummat sekitar masjid bisa mendapatkan manfaatnya ?Jawabannya jelas tidak, paling-paling masjid hanya akan mendapatkan bagi hasil semata dari pihak bank yang besarnya cenderung sangat kecil
Lalu siapa yang memanfaatkan dana kas masjid kita, jika disimpan di bank ? Pemanfaatan dana kas masjid yang telah ditabungkan ke bank tentu menjadi tanggungjawab dan kewenangan pihak bank untuk mengelolanya dan semua terserah dengan bank tersebut.
Padahal dana yang telah masuk di bank akan dikelola sebagai dana investasi (pihak bank tidak tahu/tidak mau tahu asal dana tersebut, dari dana infaq atau kas masjid, yang penting ada yang menjadi nasabah), sehingga siapapun yang akan memanfaatkan dana bank akan dikenakan ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan pengelolaan dana bisnis, salah satu ketentuan yang sudah lazim dilakukan, yakni bahwa siapapun yang mengajukan pinjaman dana usaha ke bank diharuskan mempunyai jaminan pada bank yang besarnya minimal sebanding dengan dana yang dipinjam.
Contoh yang mudah dipahami, yakni jika ada 10 orang masing-masing menabung di bank sebesar Rp. 1 juta rupiah, maka total tabungan dari 10 orang tersebut adalah Rp. 10 juta rupiah. Kira-kira mungkinkah salah seorang dari 10 orang tadi, yang masing-masing hanya memiliki tabungan sebesar Rp 1 juta rupiah bisa mengajukan pinjaman dengan nominal Rp. 5 juta rupiah, sedangkan dia tidak memiliki jaminan sama sekali pada bank ? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak punya tabungan di bank sama sekali,  tapi dirinya memiliki jaminan sertifikat rumah, kemudian orang tersebut mengajukan pinjaman dana sebesar Rp 10 juta pada bank, mungkinkah pihak bank akan memberikan pinjaman ? Jawabannya sangat mungkin sekali. Mengapa ? Karena pihak bank hanya berorientasi pada keuntungan dan keamanan dananya. Maka jangan heran dari penggambaran di atas ada yang bilang bahwa,  apabila ada orang miskin yang menabung di bank dan tidak punya jaminan, maka orang tadi hanya mendapatkan rasa aman semata, bahkan ada yang berkomentar pula inilah gambaran nyata dari adanya orang-orang miskin memberikan pinjaman dana pada para pengusaha kaya/konglomerat melalui bank. Yang jadi pertanyaan, bagaimana jika dana tersebut adalah infaq/kas masjid kita saat ini yang sedang kita simpan di bank ? Padahal kenyataannya banyak ummat hari ini yang sangat membutuhkan uluran bantuan dari masjidnya?

Inilah salah satu kesalahan fatal pengelolaan infaq/kas masjid kita hari ini yang kurang berpihak pada ummat, tapi justru secara tidak langsung berpihak pada konglomerat kaya, naudzubillah  

2.    Takmir/Pengurus masjid saat ini memandang Infaq/kas masjid layaknya dana bisnis sehingga dalam menyalurkan dana cenderung berpikir untung dan rugi, akibatnya ummat tidak mendapatkan kemudahan dan manfaatnya dari infaq/kas masjid. Bahkan kebanyakan ummat saat ini dalam urusan pinjam-meminjam dana untuk usaha atau keperluan hidup lainnya lebih menggandalkan bank plecet (rentenir) dari pada harus ke pengurus masjid setempat, di bank plecet selain prosedurnya mudah juga tidak rumit sebagaimana di masjid
Dalam pembahasan ini penulis pernah bertemu dengan seorang takmir/pengurus masjid, pengurus tersebut mengatakan bahwa : Kita percumah saja meminjami dana usaha untuk ummat yang membutuhkan dana usaha, karena dana pasti akan macet, lebih baik kita berikan dalam bentuk sembako yang bisa langsung dimanfaatkan. (biasanya diprioritaskan mendapatkan sembako adalah para orang tua yang telah lanjut usia, padahal seringkali orang tua yang telah lanjut usia menjadi tanggungan orang muda yang masih produktif, mengapa tidak pada para pemudanya saja ???), Akibat dari pandangan, produktifitas dan kemampuan kerja tumpul dan sulit untuk mampu mandiri, khususnya bagi para pemuda. Inilah salah satu pandangan bahwa infaq/kas masjid dipandang sebagai dana investasi.
         
          Maka, paradigma ini perlu diluruskan, bahwa infaq/kas masjid harus tetap dipandang sebagai infaq, artinya dana dari sumber infaq tersebut harus segera disalurkan untuk ummat yang membutuhkan dan tidak perlu berpikir untung dan rugi, terlebih lagi diendapkan (karena ini sudah menjadi hak ummat). Dan akan lebih baik lagi jika takmir/pengurus masjid membuat mekanisme penyaluran dana yang baik, misalkan : untuk sosial dana dibatasi Rp. 100 ribu saja, untuk membantu usaha yang telah berjalan dana yang disalurkan sebesar Rp. 300 ribu dan diminta kembali (bagi yang sudah punya usaha mapan dan sangat mungkin untuk mengembalikan dana) dan bagi yang memulai usaha dari nol disiapkan betul dana yang cukup sehingga ummat mampu mandiri dengan sebenarnya.
          Tapi, sayangnya mekanisme penyaluran yang baik belum pernah dibentuk, tapi  para takmir/pengurus masjid sudah terlanjur dihantui dengan dana tidak kembali, padahal bertambahnya dana infaq itu kalau dana tersebut disalurkan untuk ummat yang membutuhkan, semakin banyak yang kita salurkan akan semakin banyak dana yang akan masuk pada kas masjid kita.Insya’ Allah.

Dan perlu dicatat bahwa, dana infaq/kas masjid adalah dana yang seharusnya segera disalurkan semua tanpa harus berpikir untuk dikembalikan, kalaupun berpikir untuk dikembalikan hanya pada pertimbangan asas pemerataan semata dan bukannya malah diendapkan seperti saat ini, wallahu alam.  (Sumber :khoirotunhisan.org)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites