Kami Siap Desain dan Cetak Kalender Hijriyah

Alhamdulillah kami siap membantu dalam Promosikan usaha anda melalui Kalender Hijriyah, Promosi sekaligus dakwah Kalender Islam

Ust. Abu Bakar Baasyir adalah Guru Bangsa

Ust. Abu Bakar Baasyir sangat pantas di beri gelar Guru Bangsa, label teroris untuknya adalah jauh panggang dari api

Meluruskan Pengelolaan Infak/Kas Masjid Hari Ini

Banyak diantara pengurus/takmir Masjid yang tidak tahu tentang pengelolaan dana Kas masjid yang sumbernya dari infak Jamaah masjid

Sabtu, 05 Mei 2012

KRONOLOGIS PERISTIWA GANDEKAN YANG DICERITAKAN LANGSUNG OLEH UST SUPRI SELAKU TAKMIR MASJID MUHAJIRIN DAN JUGA SAKSI MATA KEJADIAN

SOLO - Kronologi Bentrok Preman Kafir dengan Laskar Umat ISlam sebenarnya akan kami sampaikan secara berurut Kejadian hari Kamis 3/5/2012 1. Bermula dari ada salah seorang anggota jamaah masjid muhajirin yg meninggal dunia,kemudian dimakamkan dipemakaman umum pucang sawit. 2. Kurang lebih jam 13.00 Jamaah masjid mengantarkan jenazah ke pemakaman Pucang Sawit, setelah selesai pemakaman pulang lewat pasar tanggul yang berlokasi didekat gandekan. 3. Sewaktu perjalanan pulang Ust supri melihat ada sepeda motor yg dipukuli massa,yang disekitarnya banyak massa yg membawa senjata tajam, karena ust supri merasa tidak ada masalah kemudian langsung kembali ke masjid muhajirin. 4. Sesampai dimasjid ada laporan bahwa bahwa ada jamaah masjid (Sandi) kena pedang. 5. Dan ternyata petakziyah yg pulang belakangan yang juga melihat sepeda motor dibakar juga ikut ditebas dengan pedang mengenai lengannya, beruntung korban memakai jaket sehingga hanya memar-memar saja, akan tetapi teman yang diboncengkannya kena kepala dan punggung sehingga terluka, tapi kemudian bisa berhasil lolos dari kebrutalan preman. 6. Kemudian ada korban yang lain, yang baru keluar dari masjid sehabis sholat dan berhubung merasa tidak ada persoalan, korban ini melihat kok ada kendaraan dibakar dan tanpa babibu korban ini langsung dipukul dengan batu dikepalannya lalu dipedang dan dipukuli dengan lingggis, lha korban ini yang paling parah yang sebetulnya tidak tahu menahu duduk permasalahannya,yang dikarenakan korban ini berjenggot dan memakai celana isbal. 7. Jamaah masjid muhajirin yang mendengar itu secara spontanitas dengan laskar dari ormas lain langsung berkumpul dan berangkat bersama-sama ketempat kejadian untuk mengadakan pressure, dan pada saat presure tersebut sempat terjadi saling lempar batu dengan kelompok preman. Kejadian hari Jumat,4/5/2012 1. Pada hari Jumat ini para laskar mau mengadakan presure lagi, dan alhamdulillah laskar yang datang dari berbagai ormas sesoloraya dan luar kota sehingga mencapai jumlah 600 an laskar di masjid muhajirin saja. 2. Kurang lebih pukul 14.00 laskar berangkat longmarch dan sewaktu memasuki kampung gandekan sudah banyak aparat yg berjaga disetiap gang-gang kampung gandekan. 3. Dan atas kehendak Allah warga preman yg hendak melempari laskar ternya mengenai aparat sendiri,karena lemparannya tidak sampai pada laskar,sehingga aparat terluka dan menyingkir dari gang yang diamankannya. 4. Karena gang tidak ada yg menjaga maka laskar masuk gang karena ada gerombolan warga yang membawa senjata tajam,bom molotof dan juga cairan kimia yang kemudian dilemparkan ke laskar sehingga ada laskar yang terluka. 5. Berhubung warga tahu kalah jumlah mereka lari,akan tetapi ada seorang kakek yang tidak tahu diri malah menantang laskar dan mengayunkan besi yang sebelumnya kakek ini juga yang melempari air aki sehingga kaki laskar ada yang melepuh. 6. Dan akhirnya kakek ini diajak duel dan laskar ada yg terluka ditangan dan belakangan diketahui dijahit 7 jahitan. 7. Melihat ada laskar yang terluka kemudian laskar lain langsung menyerbu dan akhirnya kakek ini jadi korban,dan beruntung korlap segera menghentikan tindakan ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan kemudian laskar melanjutkan jalan kembali ke masjid muhajirin. Kejadian Hari Sabtu,5/5/2012 Pukul 11.00 WIB pejabat dari korem,Kodim ,Jokowi dan MUI serta wartawan datang ke masjid muhajirin terkait kronologis kejadian dan juga melihat korban dari pihak laskar. Kejadian Hari Ahad,6/5/2012 1. Kurang lebih pukul 16.30, Munarman SH, Ust Aris Munandar(DDI) dan Ust Khoirul (FPI) datang kemasjid Muhajirin dalam rangka menanyakan kronologis kejadian yang sebenarnya, karena media memberitakan simpang siur dan selalu menyudutkan laskar umat islam. 2. Ust Supri menceritakan kronologis kejadian seperti yang diatas. 3. Ust.Aris Munandar menyampaikan tausiyah berkenaan peristiwa itu ditinjau dari sisi syar’inya. 4. Ust Khoirul menyampaikan bahwa Iwan Walet ternyata pernah menyampaikan bahwa dia takut mati berkenaan dengan peristiwa itu, dan juga ternyata Iwan Walet dulu awalnya seorang muslim dan dimurtadkan oleh FX Hadi Rudyatmo (Wawali Surakarta). 5. Ust Khoirul juga menyampaikan bahwa kalau Iwan Walet berani mengatakan bahwa ia pernah dimurtadkan oleh FX Hadi Rudyatmo maka bisa jadi laskar akan berubah pikiran berkenaan dengan kejadian ini. Dan selanjutnya kejadian ini akan selalu dikawal terus sampai kepengadilan dan menghimbau agar semua umat islam turut mengawasinya.

Jumat, 04 Mei 2012

Iwan Walet Tersangka dan menjadi Tahanan Polres Solo

SOLO - Kapolres Solo Kombespol Asdjimain menyampaikan dalam acara membahas perkembangan situasi terkini di Solo yang diprakarsai Pemkot Solo di Rumah Dinas Loji Gandrung. “Bahwa sudah ada dua tersangka berinisial I dan C. Dua orang tersebut sudah kami tetapkan sebagai tersangka, sekarang ditahan di Mapolresta Solo,” I dan C dinyatakan cukup bukti melanggar pasal 170 KUHP, dengan barang bukti yang disita adalah Sepotong besi (linggis), Batu, Jaket, Supra X 125 AD 5423 HZ. Hadir dalam acara dalam acara ini KH. Sholihan (FKUB), Prof. Dr. dr. Zaenal Arifin Adnan (MUI), Joko Widodo, Dandim, Danrem, Ketua DPRD Solo, Muspika, Tokoh Gandekan, sedangkan hadir dalam elemen Islam adalah MTA, JAT, FPIS, LUIS, HTI dan NU. Hadir juga Aria Bima Anggota DPR RI Ketua MUI mengatakan bahwa kedua belah pihak agar bisa menahan diri. Ia sudah menemui Pimpinan dan Jamaah Masjid Muhajirin selaku pihak korban. Ketua MUI mengingatkan juga bahwa di Kampungnya Iwan di Gandekan pesta Miras ternyata tidak hanya malam Minggu, tetapi hampir setiap hari. Kasus bentrok di Solo patut dicermati juga bahwa sudah ada indikasi “politik”, tidak bisa lepas dari Pencalonan Gurbernur DKI. Edi Lukito selaku Ketua LUIS mengatakan bahwa Kasus ini sebenarnya tak lepas Kasus Kipli di Kusumodilagan Pasar Kliwon. Pada saat itu, paska tewasnya Preman Kipli, sebanyak 117 Jamaah Masjid Muslimin di angkut ke Truk Dalmas dan dibawa ke Ruang Reskrim Poltabes Solo dan diperlakukan tidak manusiawi yang dilakukan oleh Kanit Tipiter pada saat itu AKP Antonius Digdo Kristanto. Dan akhirnya 7 jamaah masjid ditahan, akhirnya di Vonis 4-5 tahun. Sementara itu, dalam Kasus Iwan Walet ini, hanya 2 orang yang ditahan. "Ini Diskriminatif, dan dirasa tidak adil" ujar Edi Lukito Munawar tokoh Kampung Gandekan mengatakan, “2 hari berturut-turut membuat warga gandekan tidak bisa tenang. Bahkan tidak lagi terdengar suara Azan Ashar di Gandekan pada saat itu, karena penjagaan yang ketat dan gang ditutup. Ia sempat mewacanakan Iwana apa sebaiknya dipindah saja.” LUIS menyayangkan ketidakhadiran Wawali Solo, mestinya Ia bisa menjelaskan ke forum ini tentang posisinya, posisi para preman dan solusi terbaik untuk semua pihak. (endro/moslem idea)

Rabu, 15 Februari 2012

Korupsi di Instansi Pemerintah


Tidak bisa dipungkiri bahwa korupsi sudah mendarah daging di tubuh para abdi negara, hal ini disebabkan oleh berbagai hal, dari penerimaan PNS yang harus membayar puluhan juta hingga tidak adanya kejelasan karier pada Instansi Pemerintah, bayangkan saja untuk menduduki suatu jabatan di Instansi Pemerintah harus membayar ratusan juta bahkan sampai miliaran rupiah agar bisa duduk sebagai eselon III dan II.

Hal ini tentu sangatlah menuntut pejabat tersebut untuk melakukan korupsi karena untuk mendapatkan jabatan tersebut dia sudah habis-habisan dan ini masuk sangat masuk akal. Ini disebabkan oleh tidak adanya jenjang karier yang jelas di Pemerintahan. Hampir tidak ada Instansi Pemerintah yang mengangkat pejabat berdasarkan golongan, kinerja dan prestasi melaikan hanya berdasarkan Kolega, Kekeluargaan dan terutama karena bayaran yang sangat tinggi. Di daerah Sumatera misalnya untuk menduduki jabatan eselon II harus membayar sebanyak Min. 1 Millyar itu juga tergantung dinas nya (yang basah/kering).

Pemerintah hendaknya lebih jeli menyikapi hal seperti ini, jangan terlalu menyalahkan pejabat yang korupsi karena dia sudah habis-habisan materi untuk mendapatkan jabatan tersebut ditambah lagi tanggung jawab yang besar dan berat, tetapi hendaknya ada penataan sistem dalam karier, kinerja, prestasi, tetapi cobalah mengangkat pejabat berdasarkan kinerja dan prestasi tanpa harus membenani dengan membayar upeti.

Disamping itu selain dalam pengurusan jabatan yang mengeluarkan banyak uang, pengurusan berkas-berkas juga dikenakan banyak biaya, contohnya dalam pengurusan berkala dikenakan biaya min. 20 ribu setiap kali mengurus, kenaikan pangkat/golongan dikenakan biaya hingga 1 jt , pengambilan SK dikenakan biaya min. 500 ribu, penyesuaian Ijasah dikenakan biaya hingga 1.5 jt, dbs.

Hal-hal seperti inilah yang mendorong para abdi negara untuk melakukan berbagai tindakan ambil sana ambil sini, potong sana, potong sini (korupsi) karena dalam segala pengurusan administrasi pribadi saja para abdi negara ini telah di pungli maka mau tidak mau dia akan berbuat demi mengembalikan kerugian yang dialami. Hal ini sangat penting menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan kinerja para abdi negara dan mengurangi prilaku KORUPSI (antikorupsiana.com/moslem idea)

Selasa, 14 Februari 2012

FPI dalam Pusaran Media-media


Front Pembela Islam (FPI) menjadi bulan-bulanan media. Berangkat dari sinisme terhadap FPI, akhirnya pemberitaan yang dilakukan sebagian media menjadi tidak obyektif. Kecuali media Islam, beberapa media menyajikan pemberitaan yang mengarahkan pembacanya pada citra buruk FPI.

Sikap sinis ini semakin kentara ketika media menghadirkan berita yang tidak sama antara badan berita dengan judul. Misalnya, Kompas.com tertanggal 12 februari pukul 12.40 WIB, yang menurunkan berita tentang statemen Din Syamsudin terkait penolakan kehadiran FPI di Kalimantan Tengah. Judul berita yang diturunkan Kompas.com adalah “Din Syamsudin: Tolak Ormas Anarkis”. Isi berita tersebut adalah pernyataan Din Syamsudin yang menolak segala bentuk kekerasan. Tidak ada satu kalimat pun dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, di berita itu, yang menyebut “Tolak Ormas Anarkis.”

Pemberian judul di atas menjadi bias karena seolah-olah Din Syamsudin menolak FPI, padahal dalam pernyataannya, Din hanya mengatakan tolak segala bentuk aksi kekerasan yang bisa dilakukan siapa saja. Bisa disimpulkan, Kompas.com sudah melakukan penghukuman terhadap FPI (Trial by The Press) dengan memberikan judul seperti itu.

Selengkapnya bisa dilihat http://nasional.kompas.com/read/2012/02/12/12403753/Din.Syamsuddin.Tolak.Ormas.Anarkis.

Lain pula yang dilakukan Vivanews.com. Media ini menurunkan sejumlah berita terkait kehadiran FPI di Kalimantan Tengah namun mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Salah satu berita yang cukup bombastis adalah berita dengan judul “Usir FPI karena Warga Dayak Trauma Konflik” tertanggal 14 februari pukul 00:02 WIB.

Dengan judul menggunakan tanda kutip, pembaca disuguhi pernyataan langsung dari seorang pengamat. Redaksi tentu sudah memilih siapa pengamat yang jawabannya sesuai dengan keinginan mereka. Uniknya, ada lead yang memperkuat judul dalam berita itu, “Tak ada terkait agama. Mereka tidak menolak Islam, tapi menolak radikalisme.” Pemilihan lead semacam ini menjadi biasa dilakukan awak redaksi untuk mengarahkan kemana pembaca akan digiring.

Selengkapnya bisa dilihat http://nasional.vivanews.com/news/read/287841–usir-fpi-karena-warga-dayak-trauma-konflik-

Detik.com sebagai portal berita internet yang kini dikuasai Transcorp juga tidak kalah menunjukkan sinisme terhadap FPI. Media ini bahkan menghilangkan identitas Habib pada Ketua Umum FPI Muhammad Rizieq Shihab. Di setiap penulisan berita, Detik.com selalu menyebut Ketua Umum FPI Rizieq Shihab. Tidak ada penjelasan mengenai hal ini dari portal berita ini.

Di beritanya lainnya, Detik.com mewawancarai peneliti SETARA Institute yang notabene adalah lawan ideologis FPI. Dalam wawancara itu, FPI digambarkan sebagai organisasi yang kebal terhadap hukum karena merusak tempat-tempat prostitusi , penyebaran miras dan lain sebagainya, namun dibiarkan oleh pemerintah. Statemen peneliti SETARA Institute pun dikutip hanya sebagian oleh Detik.com, karena di akhir badan berita, penulisnya hanya mengutip penggalan kalimat dari berita yang sudah tayang sebelumnya.

Beritanya bisa di lihat http://news.detik.com/read/2012/02/13/020916/1840605/10/insiden-tolak-fpi-di-palangkaraya-bentuk-kekecewaan-pada-pemerintah?nd992203605

Yang harus diperhatikan lebih di Detik.com adalah komentar-komentar dari pembaca yang kebanyakan anonim. Setiap berita menyangkut FPI atau Islam, pasti banyak komentar-komentar sinis, bahkan menghina, yang sepertinya dibiarkan oleh redaksi Detik.com.

Sementara itu, Antaranews.com yang menjadi kantor berita resmi pun menurunkan sejumlah berita yang bisa disimpulkan tidak setuju dengan adanya FPI. Beberapa judul yang ditulis media ini bahkan menunjukkan sikap redaksi yang demikian. Salah satunya adalah berita dengan judul “Warga Dayak Tolak FPI” tertanggal 11 Februari pukul 15:54 WIB. Beritanya http://www.antaranews.com/berita/296896/warga-dayak-tolak-fpi

Antaranews.com rupanya juga menurunkan berita yang sama dengan Kompas.com tertanggal 12 Februari dengan narasumber Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin. Berbeda dengan Kompas.com, Antaranews.com tidak mengutip satu kata pun tentang ormas anarkis.Dalam artikel itu, Din Syamsudin menekankan tidak ada agama di Indonesia yang menolak keberagaman.

Bagaimana media massa Islam?

Berbeda dengan media-media massa mainstream, media Islam justru melakukan pembelaan terhadap FPI. Sebut saja eramuslim.com, voa-islam.com, arrahmah.com, hidayatullah.com dan republika.co.id. Sebagian dari media massa itu bahkan menyebut Dayak Kafir untuk menunjukkan sikap redaksi.

Mereka mengutip statemen dari seluruh pengurus FPI, pengamat Islam yang menguntungkan FPI, atau statemen-statemen pejabat negara, dalam hal ini kepolisian, untuk memposisikan FPI sebagai pihak yang tidak dirugikan. Hidayatullah.com bahkan tidak ragu menyebut adanya upaya pembunuhan atas apa yang terjadi pada Sabtu (11/2) yang lalu.

Media ini mengutip pernyataan Wasekjen FPI, KH. Awit Masyhuri yang menyebut ada pihak-pihak yang khawatir kepentingan ekonominya terganggu dengan kedatangan FPI. Menurut Awit, sebulan lalu delegasi warga Dayak Kalteng dari berbagai agama mendatangi DPP FPI di Petamburan untuk meminta bantuan untuk menghadapi arogansi Gubernur Kalteng dan Kapolda Kalteng tentang konflik agraria seperti Kasus Mesuji– Lampung.

Voice of Al-Islam atau VOA-Islam.com lebih keras lagi menyebut Dayak Kafir atas apa yang terjadi dengan FPI. Media ini juga menunjukkan pembelaan terhadap Habib Rizieq Shihab dan seluruh pendukungnya. Hal ini jelas karena posisi media ini adalah sesuai dengan visi dan misinya yang khawatir dengan nasib umat Islam yang semakin termarjinalkan dengan kelompok-kelompok Kapitalis dan Zionis.

Eramuslim.com yang lebih dulu menjadi portal berita dunia Islam juga membela FPI. Ada yang menarik dari tulisan editorial Media Islam Rujukan ini. Editorial berjudul “Mengapa Menolak Habib Rizieq?” mempertanyakan sikap ambivalensi media terhadap pelaku-pelaku kekerasan di tanah air.

Dalam tulisan itu, Eramuslim mengkritisi arti kekerasan yang sering disematkan pada FPI. Padahal, pada kenyataannya, banyak kekerasan-kekerasan yang dialami umat Islam di daerah, justru dilakukan kelompok-kelompok non-muslim, namun hal itu tidak diungkap media-media massa mainstream.

Dalam kerusuhan Madura vs Dayak, Eramuslim.com mengungkit kembali kerusuhan antara Muslim vs Kristen. Selengkapnya bisa dilihat http://www.eramuslim.com/editorial/mengapa-menolak-habib-riziq.htm

Arrahmah.com yang mengusung tagline Berita Dunia Islam & Berita Jihad Terdepan, mengeluarkan sikap redaksi yang keras. Meminjam pernyataan Ketua bidang Nahi Munkar DPP FPI Munarman, media online ini menghalalkan darah kafir harbi yang menghalang-halangi dakwah Islamiyah.

Bahkan, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, dicap sebagai kafir harbi yang darahnya halal untuk ditumpahkan. Beritanya ada disini: http://arrahmah.com/read/2012/02/11/17991-munarman-kafir-yang-menghalangi-dakwah-adalah-kafir-harbi-halal-darahnya.html

Kebenaran Hakikat vs Kebenaran Prosedural

Dari uraian pemberitaan di atas, terbukti bahwa media-media memiliki banyak kepentingan, bisa ideologis, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Awak redaksi akan menentukan seperti apa wajah media tersebut. Seorang muslimkah dia, liberal, agnostik, kejawen dan sebagainya, akan mempengaruhi berita-berita yang disuguhkan.

Pembaca pun hanya menjadi penonton, yang jika tidak hati-hati dan cerdas, akan terhanyut dan terombang-ambing dalam pusaran informasi yang begitu deras dan terbuka. Independensi media massa pun dipertanyakan, jika melihat dari pemberitaan FPI.

Bahkan, media berperan besar dalam menstigmakan FPI sebagai organisasi pro-kekerasan. Bayangkan saja, setiap ada penggerebekan yang dilakukan FPI, maka jurnalis televisi akan selalu hadir. Tayangan video itu lalu disiarkan secara langsung di setiap program berita. Masyarakat pun tercengang dengan apa yang disaksikannya. Jadilah, FPI tertuduh sebagai ormas kekerasan.

Apakah kekerasan hanya dilakukan FPI? Jawabnya tidak. Kita semua tahu bahwa pelaku kerusuhan di daerah banyak juga yang dilakukan oleh non-muslim. Namun, porsi pemberitaannya tidak sama dengan apa yang dilakukan FPI.

Jika kita melihat hakikat yang dilakukan FPI, maka kebenaran yang diusung tidak terbantahkan. Maksudnya begini, siapa pun pasti setuju bahwa minuman keras, prostitusi, perjudian dan sejenisnya adalah tindak kejahatan yang harus diberantas. Tidak perlu ditanya betapa banyak bukti kehancuran akibat perbuatan-perbuatan tersebut. Kecuali bagi penganut adanya kebenaran relatif, maka hal-hal tersebut tentu tidak berlaku.

Apa yang dilakukan FPI secara hakikat adalah benar, karena mereka menghilangkan penyakit sosial masyarakat yang sudah endemik. Kekerasan yang mereka lakukan biasanya menjadi pilihan terakhir, karena adanya kelompok penentang. Pun hingga saat ini, kekerasan itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Bandingkan dengan kekerasan di daerah, misalnya Ambon, Poso, Bima, Makassar dan lainnya sebagainya, yang menyebabkan korban meninggal dunia. Kebenaran hakikat yang diyakini FPI bertabrakan dengan kebenaran prosedural yang ditetapkan dalam kehidupan masyarakat.

Ambil contoh kasus Perda Miras yang ramai beberapa waktu lalu. Kementerian Dalam Negeri berdalih Perda-perda Miras bertentangan dengan Keputusan Presiden Nomor 3 tahun 1997. Oleh sebab itu, muncul wacana pencabutan Perda-perda tersebut.

Secara prosedural perundang-undangan, upaya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi benar untuk mencabut Perda-perda tersebut. Tapi, secara hakikat, dia akan bertabrakan dengan kebenaran yang diyakini umat Islam secara mayoritas.

Inilah contoh kasus yang menyebabkan lahirnya kelompok-kelompok seperti FPI. Selama kebenaran prosedural tidak berdasarkan kebenaran hakikat, maka akan selalu lahir generasi pembela Islam. Dan, bagi mereka yang sungguh-sunggu memerangi FPI dikhawatirkan terjangkit penyakit Islamophobia yang wabahnya sudah mendunia.

Penulis: Mohamad Fadhilah Zein (Produser TvOne)

sumber: eramuslim

Dikhawatirkan Membongkar keBobrokan Pejabat, FPI dihadang Gerombolan Preman di Palangkaraya


JAKARTA — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Front Pembela Islam (DPP FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA menilai, insiden penghadangan anggotanya di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya pada Sabtu (11/02/2012) siang yang kemudian berlanjut dengan penggagalan pendirian FPI di Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah sarat dengan muatan politis.
Habib Rizieq menganggap, massa penghadang yang mengatasnamakan Suku Dayak tersebut merupakan binaan dari Gubernur Kalimantan Selatan Teras Narang.
Diduga olehnya, ada skenario yang harus diperhatikan di balik penolakan massa terhadap utusan FPI. Skenario itu, menurutnya, berupa penyesatan opini publik bahwa seakan-akan keberadaan FPI di Kalimantan Tengah dapat mengganggu kestabilan masyarakat terutama Suku Dayak. Padahal, seperti diberitakan sebelumnya, Habib Rizieq menilai hubungan warga Dayak dengan FPI selama ini sangat baik.
Menurut Rizieq, kedatangan FPI ke Palangkaraya merupakan ancaman bagi sejumlah penguasa dan pengusaha di Kalimantan Tengah.
Dia lantas memberi contoh, gerombolan yang merangsek masuk ke Bandara Tjilik Riwut dioperatori oleh Yansen Binti dan kawan-kawannya. Yansen, kata Rizieq, ditenggarai sebagai gembong narkoba terbesar di Kalimantan Tengah yang sampai saat ini masih belum mampu disentuh polisi.
Operator lapangan selanjutnya dalam insiden tersebut, masih menurut Rizieq, adalah Lukas Tingkes. Lukas merupakan seorang terpidana korupsi berdasarkan putusan pengadilan PK MA dan sudah inkracht (berkekuatan hukum tetap) sejak Desember 2011, jelasnya.
sedangkan Menurut Haji Budi salah satu anggota DPRD Kabupaten Seruyan membantah Pemberitaan sejumlah media nasional yang menganggap masyarakat Dayak menolak kedatangan Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah
“Apa yang dikatakan mereka bahwa FPI ditolak keras oleh warga Dayak itu tidak benar,” tegasnya kepada wartawan saat menyambangi Mabes Polri bersama rombongan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FPI di Jakarta (13/2/2012).
Masyarakat Kalimantan Tengah, aku Budi, sangat mendukung keberadaan FPI. Malahan, lanjut dia, warganyalah yang meminta kepada Habieb Rizieq Shihab untuk membentuk kepengurusan FPI di Kalimantan Tengah.
“Saya pengen luruskan, kami akan tetap melaksanakan pembentukan kepengurusan FPI di Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Seruyan, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur dan Kapuas dalam jangka yang secepatnya,” imbuh Koordinator Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah tersebut. (hidytlh/risalahtauhidnews)

Senin, 09 Januari 2012

Beda Aqidah dengan umat Islam, Syi'ah bukan Islam

Jakarta - Sesungguhnya, akidah kita umat Islam tidak sama dengan akidah Syi’ah. Jelas, Syi’ah itu merupakan induk kesesatan. Jadi anggapan akidah Sunni sama dengan akidah Syiah adalah sebuah kerancuan yang luar biasa. Ini penipuan yang nyata.
“Meski kelak suatu saat, ada kerja sama antara umat Islam dengan kalangan Syi’ah di dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan, bukan berarti akidahnya sama,” ujar Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dalam situsnya Nahi Munkar.
Seorang tokoh NU sendiri, seperti KH Irfan Zidny MA (almarhum), pernah merasa gusar terhadap sikap sejumlah intelektual dan ulama yang memposisikan Syi’ah sama saja dengan Sunni, padahal mereka itu tidak tahu banyak soal Syi’ah.
Perbedaan akidah itu jelas, jika menyimak doktrin tentang Tahrif al Qur’an yang dimunculkan syiah untuk mendukung konsep Imamah, maka akan didapati hampir seluruh ayat-ayat Al Qur’an ditakwilkan untuk mendukung kekhilafahan Ali bin Abu Thalib ra, seperti dalam QS Al Maidah : 55 dan 67. Bahkan untuk tujuan tersebut, mereka tidak segan-segannya untuk menambah ayat –ayat di dalam Al Qur’an. Sehingga muncullah doktrin-doktrin di bawah ini :
Al Qur’an yang sebenarnya terdiri dari 17.000 ayat. Yang bisa mengumpulkan dan menghafal al Qur’an persis seperti apa yang diturunkan oleh Allah hanyalah para imam. Mereka mempunyai Mushaf Fatimah, yang tebalnya tiga kali lipat dari al Quran yang dipegang kaum muslimin sekarang, dan tidak ada satu hurufpun yang ada dengan al Qur’an sekarang.
Tentunya, masih banyak doktrin-doktrin Syiah yang bertentangan dengan aqidah umat Islam, bahkan doktrin-doktrin tersebut bisa mengganggu keamanan masyarakat, karena berujung pada revolusi berdarah untuk merebut kekuasaan. Oleh karenanya, umat Islam harus selalu waspada dengan gerakan-gerakan seperti ini, agar peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau seperti pembantaian umat Islam secara masal yang terjadi di Baghdad pada masa Khilafah Abbasiyah.
Kemudian terulang kembali di saat jatuhnya Saddam Husain, begitu juga sabotase berdarah yang terjadi di Mekkah al Mukarramah yang diikuti dengan pencurian Hajar Aswad, konflik berdarah yang tidak kunjung selesai yang terjadi di Pakistan, Yaman, dan Bahrain serta peristiwa –peristiwa lainnya, agar semua itu bisa dihindari khususnya di negara Indonesia yang mayoritas umat Islamnya bermadzhab Ahlus Sunah.
Sebenarnya orang yang mengatakan Al Quran Syi`ah tidak ada bedanya dengan Al Quran Sunni, dakwaan dan perkataan ini adalah usaha untuk mendekatkan antara syi`ah dan sunni. Akan tetapi bagi siapa yang mengetahui hakikat ajaran syi`ah, maka ia akan mengetahui bahwa usaha itu tidak mungkin. Al Qurannya saja sudah berbeda apalagi yang lain. Maka janganlah kita terpikau oleh rayuan Syi`ah yang mengakatakan kita harus bersatu dan harus bersaudara, karena kita tidak akan bisa bersatu dengan mereka bagaikan air dengan minyak. (risalahtauhidnews/moslem-idea
)

Ustadz (ABB) : “Tanpa Negara Islam, syariat tidak bisa ditegakkan”


JAKARTA – Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) kembali menegaskan pentingnya kaum Muslimin memiliki kekuasaan untuk menerapkan atau menjalankan syariat Islam. Tanpa negara Islam, maka kaum Muslimin tidak akan pernah bisa menerapkan syariat Islam secara kaafah (sempurna). Demikian pernyataan beliau di rutan Bareskrim Mabes Polri Jakarta.
Ust Abu Bakar Ba'asyir memberikan nasihatnya kepada kita semua umat Islam di negeri ini. Menurut beliau, masalah mendasar yang melanda umat Islam di negeri ini adalah karena tidak faham masalah tauhid. Padahal kata beliau, tauhid dan iman adalah ruh Islam, yang apabila rusak maka semua amalan dalam Islam batal dan tidak diterima oleh Allah SWT.
Perusak tauhid umat Islam menurut beliau adalah faham murjiah, yang mengatakan bahwa iman cukup di dalam hati. Artinya, faham murjiah ini menetapkan bahwa syarat sahnya iman hanya pada keimanan dalam hati dan ikrar lisan. Tidak ada amal yang menjadi syarat sahnya iman. Maka menurut faham ini tidak ada amal yang membatalkan iman.
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menjelaskan bahwa iman adalah keyakinan di dalam hati, yang diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Maka, seseorang bisa batal imannya jika lisannya mengucapkan kekufuran, atau amal perbuatannya melakukan kekufuran.
Parahnya, faham murjiah yang menurut beliau lebih berbahaya daripada kesesatan khowarij, saat ini banyak dianut ummat Islam di Indonesia. Ummat Islam saat ini banyak yang terjerumus ke dalam kemurtadan karena doktrin sesat murji’ah ini. Kesesatan faham murji’ah ini banyak dimanfaatkan oleh toghut yang menguasai negara-negara ummat Islam termasuk toghut di Indonesia. Padahal kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, para toghut ini jelas-jelas menolak perintah Allah SWT untuk mengatur negara dengan syariat Islam secara kaafah (sempurna).
Dan beliau berpesan kepada ummat Islam agar mengganti rezim toghut ini dengan sistem Islam. Ummat Islam harus memiliki kekuasaan, negara Islam, Daulah Islam, atau apapun namanya, agar syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna, dan hal ini adalah tuntutan tauhid.
Adapun jalan, atau strategi untuk mencapai hal itu menurut beliau hanya dua, yakni dakwah dan jihad. Tidak akan pernah bisa negara Islam diterapkan dengan jalan demokrasi yang syirik, karena itu mencapur adukkan antara yang haq (Islam) dengan yang batil (demokrasi). Hanya dengan dakwah dan jihad, ummat Islam dapat mendirikan negara Islam yang kemudian menerapkan syariat Islam secara kaafah (moslem-idea)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites