Kami Siap Desain dan Cetak Kalender Hijriyah

Alhamdulillah kami siap membantu dalam Promosikan usaha anda melalui Kalender Hijriyah, Promosi sekaligus dakwah Kalender Islam

Ust. Abu Bakar Baasyir adalah Guru Bangsa

Ust. Abu Bakar Baasyir sangat pantas di beri gelar Guru Bangsa, label teroris untuknya adalah jauh panggang dari api

Meluruskan Pengelolaan Infak/Kas Masjid Hari Ini

Banyak diantara pengurus/takmir Masjid yang tidak tahu tentang pengelolaan dana Kas masjid yang sumbernya dari infak Jamaah masjid

Senin, 17 Oktober 2011

Pembunuhan bocah-bocah Afghan oleh tentara salibis


Posting terakhir Angela Keaton mengenai kondisi warga sipil di tempat yang dilanda perang, patut dihargai. Perang menjadi sulit dalam pendiriannya ketika disajikan video anak-anak Irak yang terluka. Baginya, tema nasionalisme terlalu salah.

Ia berfikir bahwa kekuatan video memiliki efek yang besar dan ia kini melakukannya dalam perang di Afghanistan untuk efek yang sama, seperti yang tertulis dalam sebuah artikel di situs antiwar.com. Korban sipil di Afghanistan telah meningkat tajam pada tahun 2011.

Dalam sebuah serangan di bulan Juli, 14 sipil meninggal dunia, 8 diantaranya adalah anak-anak. Di bulan Mei, tentara AS membunuh seorang gadis berusia 12 tahun dalam serangan malam hari. Pada bulan Maret, sembilan anak laki-laki yang tengah mengumpulkan kayu bakar di bagian timur Afghanistan, dibombardir dalam serangan udara AS.

Salibis AS yang mendukung milisi bayaran Afghan, baru-baru ini memukul anak-anak, mencabut kuku kaki-kaki seorang bocah laki-laki serta segerombolan salibis memperkosa anak laki-laki berusia 13 tahun. Di bulan Februari tahun lalu, sebuah serangan malam hari yang dilancarkan oleh salibis AS, menewaskan seorang remaja putri dan dua wanita yang tengah mengandung. Di bulan September tahun lalu, serangan helikopter salibis NATO menewaskan tujuh sipil, empat diantaranya adalah anak-anak.

Laporan PBB di tahun lalu menemukan bahwa sedikitnya 350 anak Afghan telah menjadi korban kebiadaban tentara salibis di tahun 2009 saja.

Dalam video lain yang terjadi di tahun 2008, Guardian mencakup berbagai insiden kekejaman terhadap warga sipil Afghanistan oleh pasukan koalisi. Berikut adalah kutipan dari salah seorang yang diwawancarai di dalam video :

“Kami berjalan, aku memegang tangan cucuku, kemudian ada suara keras dan semuanya menjadi putih ketika aku membuka mata. Semua orang berteriak. Aku berbaring beberapa meter dari jarak sebelumnya, aku masih memegang tangan cucuku, tapi sisanya telah pergi, aku memandang sekeliling dan melihat potongan tubuh di mana-mana.”

Namun Barack Obama dan para anteknya di Kongres bisa berbicara mengenai perang Afghanistan merupakan layanan luar biasa tentara Amerika, berbohong mengenai keamanan Afghaistan dan tanggal sewenang-wenang yang menyesatkan yang diumumkan terkait penarikan pasukan Amerika. Kebohongan, tak berguna dan tanpa tujuan dari perang terus berlanjut tanpa ada perhatian yang dibayarkan terhadap anak-anak. (arrahmah/moslem idea)

Diskriminasi Aparat terhadap Masyarakat Muslim Ambon


AMBON – Satu lagi bukti kondisi di Ambon masih mencekam, dan kaum Muslimin Ambon masih didiskriminasi. Kaum Muslimin Ambon diprovokasi oleh Kristen Ambon, dengan cara membakar sebuah tempat kost di Jalan Mutiara Mardika di belakang Pusat Pendidikan Komputer) PUSDIKOM, Ahad (16/10/2011) sekitar pukul 21.30. Berikut laporan lengkapnya sebagaimana dituturkan Koresponden Arrahmah.com langsung dari TKP

Tempat kost warga Muslim dibakar

Ahad (16/10/2011), sekitar pukul 21.30 WIT, sebuah tempat kost di Jalan Mutiara Mardika di belakang Pusat Pendidikan Komputer) PUSDIKOM dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Tempat kost milik Bapak Marjito terdiri dari 2 lantai yang terbuat dari papan. Lantai atas terdiri dari 8 kamar yang dikostkan, sedangkan lantai bawah dijadikan tempat tinggal keluarga Bapak Marjito. Tempat tersebut sudah sekitar 1 bulan ditinggal mengungsi penghuninya akibat kerusuhan Ambon, yang terjadi pada tanggal 11-13 September 2011 lalu. Penghuninya mengungsi dikarenakan tempat tersebut berada di perbatasan antara kawasan Muslim dan kawasan Kristen dan selalu menjadi sasaran penyerangan dari pihak Kristen.

Dalam pembakaran tempat kost tersebut yang diduga keras dilakukan oleh massa Kristen, bangunan dapur habis terbakar. Di TKP ditemukan bekas botol air mineral yang dipergunakan untuk membawa bensin oleh pelaku. Keterangan dari saksi yang diwawancarai oleh Koresponden Arrahmah.com mengatakan bahwa ketika terjadi pembakaran tersebut dirinya dan masyarakat Muslim sekitar langsung bergotong royong memadamkan api dengan air. Setelah api padam barulah aparat keamanan dari TNI dan polisi menyisir daerah sekitar kejadian. Anehnya, polisi justru membawa 3 orang Muslim ke Polres Pulau Ambon dengan alasan untuk dijadikan saksi. Mereka dibawa ke Polres dari jam 10 malam dan baru dipulangkan pukul 02.30 pagi.

Masih ada diskriminasi di Ambon

Salah satu dari 3 orang saksi yang juga berhasil diwawancarai oleh Koresponden Arrahmah.com dan meminta namanya dirahasiakan, mengatakan bahwa mereka diperlakukan seperti tersangka. Mereka dipersiksa oleh penyidik Polres Ambon yang bernama Vilki Sohuat yang beragama Kristen. Dalam pemeriksaan tersebut dibuat BAP saksi oleh penyidik dengan dilengkapi foto para saksi. Ada kalimat tidak sedap dari penyidik Kristen tersebut kepada para saksi dimana penyidik mengatakan “Oh ini ya preman-preman Jakarta”. Sungguh aneh apa yang dilakukan oleh aparat keamanan, mereka bukannya mengejar dan mencari pelaku justru malah para saksi yang memadamkan kebakaran dicurigai sebagai pelaku.

Ketika para saksi dibawa oleh polisi ke Polres Pulau Ambon, mereka dijanjikan akan diantar pulang jika pemeriksaan telah selesai. Namun kenyataannya tidak demikian. Para saksi pulang pukul 02.30 WIT tanpa diantar tapi pulang sendiri-sendiri. Mereka dipulangkan setelah teman-teman dari masyarakat Muslim menjemput mereka di Mapolres Pulau Ambon. Kejadian ini membuktikan bahwa Ambon belum kondusif dan aparat keamanan belum mampu menciptakan rasa aman dan rasa adil bagi masyarakat Muslim Ambon. Masih ada diskriminasi di Ambon! (arrohmah/moslem idea)

FPI serukan perangi gerakan pemurtadan


BEKASI – Gerakan kristenisasi yang dilakukan secara massif oleh para misionaris dengan mendompleng program Mobil Pintar di SD Negeri dan SD Islam Bekasi adalah alarm penting agar umat Islam meningkatkan kewaspadaan dan memerangi segala bentuk gerakan pemurtadan akidah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya, KH Murhali Barda kembali mengingatkan umat agar mewaspadai gerakan pemurtadan di Bekasi Raya yang semakin berbahaya dan ugal-ugalan.

“Pembaptisan massal terhadap siswa-siswi di delapan SD Negeri dan SD Islam di Tambun Bekasi ini adalah tantangan dakwah. Ini adalah bukti konkret yang tak terbantahkan bahwa Kuffar Salibis menargetkan Bekasi, baik Kota atau Kabupaten sebagai salah satu Mercusuar Kristenisasi di Indonesia,” jelasnya seperti dikutip voa-islam.com saat usai menggelar acara Silaturahmi Keluarga Besar FPI Bekasi Raya, malam Ahad (15/10/2011).

Murhali prihatin dengan kondisi umat yang tidak fokus membentengi akidah dan melawan gerakan pemurtadan. Salah satu penyebabnya adalah gerakan deradikalisasi dan isu teroris. Menurutnya, dua isu ini telah memandulkan perjuangan dan dakwah umat Islam.

“Sayangnya, umat Islam disibukkan bahkan dibuat mandul dengan isu teroris dan gerakan deradikalisasi,” jelas Murhali yang belum lama keluar dari rumah tahanan karena berjuang membentengi akidah umat dari arogansi HKBP itu.

Berkaca dari insiden Ciketing yang justru dimanfaatkan pihak lain, Murhali mengimbau para aktivis Muslim agar perjuangan melawan pemurtadan dilakukan dalam shaff yang rapat, lurus dan dalam koridor hukum yang benar.

“Maka bangkitlah kalian wahai singa-singa Islam! Perkokoh barisan sebagaimana tentara-tentara yang siap berperang! Perangilah gerakan salibis kuffar dan jangan gentar! Allahu ma’akum. Allahu akbar..!!” serunya. (arrahmah/moslem idea)

Jumat, 14 Oktober 2011

Waspadalah! Mobil Pintar Ani Yudhoyono Diperalat untuk Kristenisasi


BEKASI – Program Mobil Pintar yang digagas Ibu Negara Ani Yudhoyono dan istri para menteri negara diselewengkan oknum misionaris untuk melakukan kristenisasi di SD Negeri dan SD Islam Bekasi. Pemerintah harus mengusut tuntas oknum misionaris yang mencoreng dunia pendidikan dengan isu SARA.

Untuk meningkatkan pendidikan dalam mencerdaskan bangsa, Ibu Negara Ani Yudhoyono dan para istri menteri Kabinet Indonesia Bersatu membentuk SIKIP (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu).

Tiga program andalan SIKIP untuk mencerdaskan bangsa adalah Mobil Pintar, Motor Pintar dan Rumah Pintar yang digagas oleh Ibu Ani Yudhoyono. Tiga program ini mengacu pada UU No. 43 th 2007 tentang Kebijakan PKM, yaitu Pembudayaan Kegemaran Membaca (PKM) dilakukan melalui Keluarga, Satdik dan Masyarakat, antara lain: pertama, Keluarga, difasilitasi Pemerintah dan Pemerintah Daerah melalui buku murah dan berkualitas, Kedua, Satdik, dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran, dan ketiga: Masyarakat, penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan bermutu.

Dalam situs resminya disebutkan misi dan visi Mobil Ptar adalah sebagai sumber belajar dan program pembelajaran multi fungsi. Sumber belajar dalam Mobil Pintar meliputi buku bacaan yang 85% untuk anak-anak, CD interaktif, arena panggung dan perangkat komputer jenis laptop serta arena permainan edukatif. Program pembelajaran dirancang untuk mengembangkan seluruh potensi kecerdasan. Program pelayanan pendidikan ini diberikan secara gratis. Setiap pembelajaran dimulai dengan jingle Mobil Pintar.

Sayangnya, dalam praktiknya di Bekasi, program Mobil Pintar yang digagas oleh Ani Yudhoyono ini diselewengkan oleh para misionaris untuk melakukan kristenisasi. Fakta-fakta adanya kristenisasi terungkap dalam insiden di SD Negeri Mangunjaya 01 & 05 pada Kamis (6/10/2011), dan di SD Islam Al-Hikmah pada Kamis, (13/10/2011).

Muhammad Faisal MMPd, Praktisi Pendidikan Luar Sekolah (PLS), menyayangkan insiden bernuansa SARA yang mencoreng dunia pendidikan yang dimotori Ibu Negara Ani Yudhoyono tersebut. Menurutnya, pemurtadan di kalangan sekolah adalah pembodohan terhadap umat Islam yang harus diperangi. “Bila ditunggangi misi Kristenisasi, maka Mobil Pintar itu tidak mencerdaskan, tapi justru membodohi umat,” ujarnya kepada voa-islam.com, Jum’at (14/10/2011).

Menurutnya, misi terselubung dalam Mobil Pintar di SD Bekasi adalah penyimpangan yang harus diusut tuntas oleh pemerintah, karena mencoreng nama Ibu Negara sebagai pemrakarsa program tersebut. “Seharusnya, sebagai perpustakaan berjalan, Mobil Pintar itu harus menyediakan aneka buku bacaan untuk rakyat. Anehnya, Mobil Pintar di Bekasi ini berisi roti, susu dan alat tulis bercorak Kristen yang disinyalirntuk program kristenisasi terselubung. Ini memalukan dunia pendidikan,” kecam Faisal yang juga Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi (GPAPB) itu. “Usut tuntas penyalahgunakan Mobil Pintar ini. Secara tidak langsung, oknum-oknum ini mencatut Ibu Ani Yudhoyono,” tandasnya.

Selain mendesak pemerintah mengusut tuntas, Faisal mengimbau umat Islam untuk bersatu memer angi gerakan pemtadan, karena misi mereka sudah melampaui batas kewajaran. “Oleh karena itu umat Islam harus bersa tu padu untuk merangi gerakan pemurtadan yang sudah merambah dunia Pendidikan,” imbaunya.

Senada itu, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Bekasi, Bernard Abdul Jabbar mengecam keras misi Kristen yang dipaksakan ke dunia pendidikan secara licik itu. Menurutnya, kristenisasi berkedok Mobil Pintar ini adalah gaya baru pemurtadan untuk mengejar target menjadikan Indonesia 50 persen Kristen.

“Kristenisasi yang dilakukan terhadap SD Negeri dan SD Islam di Mangunjaya Tambun Bekasi ini adalah modus baru. Misi terselubung yang mempergunakan falitas negara ini mereka lakukan untuk mengejar program jangka panjang limapuluh tahunan. Mendekati tahun 2020 ini mereka ingin mengkristenkan Indonesia dengan menargetkan 50 persen Kristen,” ujarnya di kantor Dewan Dakwah Bekasi, Kamis malam (13/10/2011). “Mereka tak segan-segan mencatut yayasan yang digawangi Ibu Ani Yudhoyono,” tambahnya.


Menurut dai yang akrab disapa Ustadz Bernard ini, kelicikan misi kristenisasi di SD Negeri dan SD Islam itu biasa dijustifikasi dengan ayat-ayat Alkitab (Bibel). “Apa yang mereka lakukan ini mengacu pada Injil Matius pasal 10 ayat 16. Mereka licik seperti ular dan santun bagai merpati,” jelasnya.

Karenanya, Bernard mengimbau para guru baik guru SD Negeri maupun guru SD Islam agar meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga akidah anak didiknya.

“Para guru harus selalu waspada dan mengawasi gerak-gerik misionaris di dunia pendidikan,” ujar ustadz mantan misionaris Katolik ini.

Agar insiden SARA di dunia pendidikan ini tidak terulang, Bernard mendesak pemerintah untuk menangkap dan mengusut tuntas para misionaris berkedok Mobil Pintar itu. “Pemerintah harus menindak tegas oknum-oknum tak bertanggung jawab yang memakai fasilitas negara dan mencatut ya yasan para pejab negara. Bila tidak, maka dunia pendidikan akan kacau karena bisa memicu sentimen SARA antikristen,” pungkasnya. [voa-islam/moslem idea]

Rabu, 12 Oktober 2011

Brunei mulai terapkan syariat Islam di semua bidang?


BANDAR SERI BEGAWAN – Ini berita gembira bagi kaum Muslimin. Brunei Darussalam, sebuah negara makmur di kawasan Asia Tenggara berencana mengimplementasikan syariat Islam di semua bidang. Hal ini diketahui dari laporan Brunei Darussalam tahun 2010 yang diterbitkan oleh Oxford Group yang bekerjasama dengan Kantor Perdana Menteri. Akankah kesultanan Brunei menjadi Negara Islam pertama di kawasan Asia Tenggara?

Dimulai dari pendidikan

Anak-anak Muslim dari usia tujuh tahun harus mengikuti sekolah agama di bawah Perintah Pendidikan Agama yang akan datang, sementara bidang lain juga akan menyaksikan Syariah diimplementasikan.

Dalam laporan Brunei Darussalam 2010, yang diterbitkan oleh Oxford Business Group dalam kerjasama dengan Kantor Perdana Menteri, Menteri Urusan Agama Pengiran Dato Seri Setia Dr Haji Mohammad Pengiran Haji Abdul Rahman menyoroti upaya Kesultanan untuk mengembangkan keahlian Syariah.

Di antaranya Menteri menjelaskan bahwa Brunei Darussalam akan meningkatkan keahlian Syariahnya dalam pendidikan agama. “Syariah mewajibkan bagi setiap pria dan wanita untuk memperoleh pendidikan,” ujar Pg Dato Dr Haji Mohammad.

“Brunei Darussalam akan mengimplementasikan Perintah Pendidikan Agama, di mana semua anak-anak Muslim dari usia tujuh tahun harus masuk sekolah agama di tingkat dasar jika tidak maka orangtua mereka akan dihukum,” ujar menteri.

“Pendidikan agama di tingkat pendidikan menengah, pasca menengah, dan pendidikan tinggi juga ditingkatkan dengan persyaratan dari negara ini,” ujarnya.

Mengembangkan keahlian Syariah di negaranya, Brunei Darussalam bisa menyaksikan Syariah dipraktikkan di dalam bisnis dan perdagangan untuk selanjutnya. Menteri menjelaskan bahwa Syariah mendukung aktivitas perdagangan dan saat ini tengah diperiksa untuk diperkenalkan di bidang lain.

Transaksi bisnis berbasis syariah

Menyoroti mudaraba (pembiayaan modal), murabaha (pembiayaan ongkos plus), sara (sewa), bai bi al thaman al ajil (pembayaran di muka), hawala (transfer), salamjuala (pembayaran atas penyelesaian, dan istisna (untuk pengiriman ditetapkan untuk dilakukan untuk memesan barang), Pg Dato Dr Hj Mohammad mengatakan bahwa Kementerian Urusan Agama akan memperkenalkan metode-metode itu di bidang bisnis dan perdagangan.

“Untuk tujuan ini, amandemen tengah dipertimbangkan dan hukum baru sedang dalam proses penyusunan,” ujar Menteri. Dia menambahkan bahwa, “Riba atau bunga akan dilarang dalam semua transaksi bisnis,” dengan beberapa hukum yang sudah diubah sesuai Syariah.

Pg Dato Dr Hj Mohammad juga menggarisbawahi bahwa kemajuan Kesultanan dalam keahlian Syariah adalah hasil dari satu faktor krusial. “Keberhasilan kami dalam keahlian Syariah berakar pada pendidikan,” ujarnya.

“Sampai saat ini, Kementerian Urusan Agama telah cukup berhasil mencapai tujuannya. Namun, kami masih harus lulus untuk memenuhi persyaratan negara dalam pendidikan Islam, dakwah, Masjid, dan lembaga-lembaga lainnya.”

Dia mengatakan bahwa Brunei sudah mengimplementasikan Syariah di sejumlah bidang. “Hukum Syariah mengakui hak asasi manusia selama lebih dari 14 abad,” ujar Menteri, seraya menambahkan bahwa Kesultanan berusaha keras untuk mengimplementasikan hak asasi manusia di negaranya.

Semoga tindakan Brunei memicu negara-negara serumpuna di Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Insya Allah!
(arrahmah/moslem-idea)

Bagaimana nasib kaum Muslimin Ambon sebulan pasca kerusuhan?

AMBON – Sebulan telah berlalu dari kerusuhan Ambon, 11 September 2011. Bagaimana nasib kaum Muslimin di sana? Apakah para pengungsi sudah kembali ke rumah-rumah mereka? Apakah kondisi mereka masih memprihatinkan? Berikut kabar terbaru tentang kondisi kaum Muslimin Ambon sebagaimana diceritakan oleh Koresponden Arrahmah.com langsung dari TKP!

Jeritan kaum Muslimin Ambon

Sebulan sudah kaum Muslimin kampung Waringin, Ambon menjalani hidup sebagai pengungsi di negeri sendiri. Mereka adalah korban kekejaman kaum nasrani pada peristiwa kerusuhan Ambon, 11 September 2011. Pada peristiwa tersebut nyawa 7 Muslim Ambon terenggut, 100 orang lebih kaum Muslimin terluka parah dan ringan, ratusan rumah kaum Muslimin di Kampung Waringin ludes dibakar pihak nasrani.

Hari ini kaum Muslimin mengungsi di beberapa tempat di kota Ambon, seperti gedung Telkom Talake & bangunan pasar belakang Ambon Plaza yang belum difungsikan. Ketika saya mengunjungi para pengungsi tadi siang, mereka mengatakan bahwa untuk kebuutuhan makan seperti beras, mie instan, dan ikan kaleng tercukupi. Perlengkapan pakaian seperti selimut, baju, dan seragam sekolah juga tercukupi. Untuk peralatan dapur seperti kompor, alat masak, piring, dan lain-lain juga terpenuhi. Pelayanan kesehatan selama 24 jam juga terpenuhi dilayani oleh tenaga medis dari Puskesmas.

Saat ini yang mereka butuhkan adalah uang untuk memenuhi kebutuhan mereka di luar kebutuhan makan dan minum, seperti untuk membayar biaya anak-anak sekolah dan ongkos transport anak-anak mereka menuju sekolah, yang dengan mereka mengungsi maka tentunya jarak menuju sekolah anak-anak mereka lebih jauh. Hingga hari ini, baru satu kali mereka menerima bantuan uang tunai sebesar Rp. 35.000,- untuk setiap satu kepala keluarga.

Kaum Muslimin wajib bantu

Demikianlah kondisi kaum Muslimin Ambon sebulan pasca kerusuhan. Apakah dengan uang Rp. 35.000 yang pernah mereka dapatkan sekali itu sudah cukup? Bagaimana dengan kehidupan mereka selanjutnya? Bagaimana dengan nasib anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya menjadi janda? Juga nasib para pengungsi yang hingga kini belum juga bisa kembali ke rumah mereka, karena memang sudah musnah dibumihanguskan kaum nasrani. Semoga dengan informasi ini kaum Muslimin di manapun tergerak hatinya untuk dapat meringankan beban kaum Muslimin Ambon. Insya Allah!

(arrahmah/moslem-idea)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Ketika Media Nasional Membungkam Tragedi Ambon 9/11



Kita sering mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk mendapatkan informasi berita yang terbaru di lingkup negeri kita ini atau negeri tetangga, namun sayangnya ketika kita sudah membeli dengan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkan berita yang bisa dipercaya, namun hari ini kita sering disuguhkan berita-berita yang menipu dan juga merugikan khususnya umat Islam, seperti kasus Ambon sendiri banyak umat Islam yang tidak tahu kejadian sebenarnya, hal ini disebabkan media yang tak pernah memberitakan suatu peristiwa jika korbannya adalah umat Islam, namun sebaliknya jika yang jadi korban adalah umat selain Islam, maka media sering membesar-besarkan seolah-olah yang salah adalah umat Islam.
Saatnya sekarang umat Islam untuk sadarkan diri, untuk tidak mudah mengeluarkan dana hanya untuk mendapatkan informasi yang update, padahal banyak situs-situs Islam yang selalu update dalam menyampaikan informasi yang berimbang.
Saatnya untuk memberikan dukungan kepada media Islam yang berani dan jujur dalam menyampaikan berita sesuai dengan fakta

Jakarta – Menarik untuk dikaji, kenapa media nasional bungkam untuk memberitakan dibalik Tragedi 9/11 di Ambon. Hanya media Islam saja, yang gencar memberitakan secara detail apa yang terjadi di sana. Ada kesan, media nasional sengaja menutup-nutupi derita muslim Ambon, seperti rumah muslim yang dibakar, dan kematian tukang ojek Darmin Saiman.

“Kenapa media nasional bungkam? Karena media nasional punya kepentingan bisnis. Media nasional ingin membela sesuatu yang oleh pemerintah dianggap merugikan masyarakat banyak. Bom dianggap merugikan masyarakat banyak, tapi malah berujung merugikan umat Islam,” kata Koordiantor ICAF Mustofa B Nahrawardaya.

Harus diakui, media umum tidak pernah membicarakan soal dampak. Media umum hanya membicarakan kejadiaan saat berlangsung, hanya mengutip pernyataan resmi pemerintah, tanpa membongkar dibalik peristiwa tersebut. Bagaimanapun media umum berkepentingan dengan pemerintah supaya tidak dibredel, karena media umum didirikan dengan biaya besar dan melalui negosiasi yang sangat rumit.

“Kalau media umum ditutup, tentu akan merugikan mereka. Media umum lebih memilih cari aman. Kalau pun ada media yang berseberangan, biasanya bukan pendapat media itu, tapi minjem mulut tokoh tertentu, itu pun tidak serius. Atau, media tidak mampu membongkar suatu kasus. Karena, satu kasus belum selesai, sudah muncul kasus yang lain. Media pun dibuat sibuk sedemikian rupa, agar tidak focus membongkar adanya kejanggalan yang terjadi.”

Menurut Mustofa, gugurnya Darmin Saiman, yang menimbulkan pertanyaan, apakah murni kecelakaan atau dibunuh, seharusnya diungkap secara tajam dan apa adanya oleh media nasional.

“Persoalannnya adalah apakah hukum bisa ditegakkan, meski media telah memblow up foto vulgar soal tragedi di ambon beberapa waktu lalu. Bahkan tanpa ada berita dan foto sekalipun, tetap saja penegakan hukum tidak menjamin.”

Ketika masyarakat tidak disugukan gambar yang sesungguhnya terjadi, media dianggap menutupi fakta. Sedangkan, media dituntut member informasi berdasarkan fakta, tapi kemudian fakta yang ditunjukkan itu dihalang-halangi, bahkan dianggap memprovokasi.

“Apakah provokasi hanya disebabkan oleh gambar? Kan tidak. Sekarang provokasi bisa dilakukan dengan agenda-agenda tersembunyi, atau dikenal dengan strategi yang soft. Misalnya, kenapa 8 orang tewas di Ambon bisa terjadi, dan sebenarnya ini juga provokasi, tapi tidak kelihatan secara gambar. Apa bedanya foto dengan dengan perbuatan mereka.”

Ironisnya, lanjut Mustofa, kenapa pemberitaan Bom Solo, meski yang tewas hanya satu nyawa, sedangkan Ambon 8 nyawa tidak diberitakan secara detail. Ini bukti, pemerintah gagal untuk membuktikan apa yang sesungguhnya terjadi. Boleh jadi pemerintah berpikir, mungkin karena yang tewas ada dikedua belah pihak (islam kristen), kemungkinan tidak menimbulkan kecurigaan atau sebuah provokasi. Tapi, ketika yang tewas satu dari agama tertentu, peristiwa ini menjadi provokasi bagi yang lain.[voa-islam]

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites